Saturday, July 12, 2008

...tujUhjULi

Aku menyentuh pipiku...Kudapati ia basah oleh air mata...
Aku tak perlu bertanya mengapa..mengapa aku menangis...
Karena aku tahu jawabannya...

Sebagai manusia biasa, yang kuharapkan di bulan ini, di hari yang telah kutunggu sejak berhari sebelumnya, hanya kebahagiaan. Kebahagiaan yang kuharap dapat menemaniku sepanjang hari. Hari istimewa bagiku sejak bertahun sebelumnya. Hari yang menyatakan bertambahnya usiaku hingga kubisa memanjatkan syukur pada-Nya karena telah diberi kesempatan untuk hidup, untuk menambah 'bekal'ku (amal kebaikan) di akhirat kelak Insya Allah. Juga hari yang menyatakan bahwa waktuku untuk menginjakkan kaki di bumi Allah SWT. telah berkurang hingga kubisa memanjatkan do'a agar usiaku sebelumnya dan yang akan datang Insya Allah mendapat Ridho dan dipenuhi berkah oleh-Nya...

Namun aku memang hanya manusia biasa. Aku tak kuasa apa-apa. Tidak semua yang kuinginkan agar terjadi di hari itu, betul-betul menjadi kenyataan. Hari yang kuharap bisa membuatku lebih sering tersenyum, tapi tidak. Hari yang kusangka menjadi saat yang tepat bagiku untuk bersuka cita bersama teman dan sanak keluarga, tapi tidak. Hari yang kutunggu-tunggu untuk menamatkan 'schedule'ku...menjadi hari yang dipenuhi isak tangis dan linangan air mata yang menusuk hati....

Hari dimana kakak yang selama ini kuanggap sebagai orang yang paling menyusahkan, menyebalkan, sering menyakitkan hati, dan segala label jelek padanya dariku, telah berpulang ke sisi-Nya...Berpulang ke Rahmatullah...Meninggalkan dunia...Terlelap di bawah tanah...Dunia yang berbeda denganku kini...

Ya. Kakakku, Muhammad Rizal (Ical), meninggal dunia tepat di hari ulang tahunku, 7 Juli 2008.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun...

Sejak duduk di bangku SD aku sudah tidak menyukai almarhum. Sering ia membuatku menangis. Menyuruhku pulang ketika aku sedang asyik bermain dengan teman-teman. Yang tak kusukai adalah caranya memperlakukanku. Sungguh sangat tak bersahabat, itu menurutku. Saat itu aku tak bisa membalas. Semua yang kurasakan, kekesalan, kemarahan, kekecewaan, bercampur jadi satu hingga aku menginjak bangku SMA. Di masa SMA aku mulai melawan jika almarhum 'berbuat ulah' lagi. Aku sudah capek. Jika sudah begitu, menangis sendirian tak bisa kuhindari. Menangis adalah hal yang wajar menurutku. Namun terkadang aku kesal jika aku menangis setelah bertengkar dengannya. Aku bisa menerima nasehat saudara-saudaraku apalagi jika aku melakukan kesalahan, kecuali nasehat darinya. Aku betul-betul tak mau mendengarnya!! Bagaimana mungkin orang yang sudah jelas salah dan berkali-kali masuk ke lubang kemaksiatan dan seperti tak memiliki niat untuk berubah bisa memberiku nasehat seenak jidatnya..? Bagaimana mungkin ia bisa se-PD itu..? Aku hanya menyuruhnya berkaca sebelum ia sok memberi petuah!! Aku hanya berpikir bahwa orang ini tak sadar bahwa dirinya sudah terlalu sering menyakiti diri sendiri dan menyakiti orang lain. Membuat keluarga kami malu...Malu dengan segala ulahnya...Membuat tidak hanya air mataku tapi air mata Ibu tercinta kami bercucuran...

Aku kurang begitu suka menyebut namanya. Aku kurang begitu suka jika orang menyebut-nyebut aku adiknya. Aku merasa 80% rekaman di otakku hanya kejelekannya, meski tentu saja ada kalanya kami hidup akur dan ‘normal’ layaknya saudara, berbagi makanan, berbicara meskipun seperlunya saja, menemani keponakanku bermain, membukakan pintu jika almarhum pulang ke rumah, dan hal lainnya. Namun entah mengapa...ada saja hal yang membuatku mengingat segala tingkah laku minusnya...Bertengkar dengannya.
Ya, Allah...
Walaupun sudah lama, tapi aku masih ingat bahwa aku sempat berkata pada temanku, saking marah dan jengkel aku dibuatnya, "ketenangan baru ada, kalau bukan dia atau saya yang mati duluan!!"
Astaghfirullah aladzim...

Lalu apa yang kurasakan saat ia benar-benar telah tiada...?
Aku menyesal...

Almarhum sempat sakit selama beberapa hari. Malam sebelum ia meninggal, aku, kakak, ibu dan ipar serta keponakanku sempat berkumpul di kamarnya. Malam itu pertama kali aku melihat kondisinya saat ia terbaring di tempat tidur. Aku memang selalu mendengar ibu memarahi almarhum yang selalu mengotori dirinya di kamar. Segala aktivitas almarhum lakukan di tempat tidur. Dengan berbagai alasan berhari-hari itu aku tidak berani masuk ke kamarnya. Hanya ibu yang setia merawat dan mengecek kondisi kakakku setiap waktu. Rupanya benar, malam saat aku masuk ke kamarnya, yang kusaksikan bukan lagi kakakku yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Kondisi almarhum lebih parah dibanding ketika aku mengangkat dan memapahnya saat ia terjatuh di dapur atau di ruang tamu, tubuhnya kurus, nafasnya mulai terdengar tak teratur. Aku bukan dokter. Tapi aku berpikir semua yang kusaksikan itu mungkin salah satunya adalah efek dari 'obat' yang sudah tidak dikonsumsinya. Kakak ketigaku memutuskan untuk membawa almarhum ke rumah sakit untuk rawat inap di hari Senin pagi.

Aku tak tahu aku harus mensyukuri atau bagaimana, tapi kepergian almarhum berjalan sangat damai dan tenang...

Hari Senin, jam 4 subuh ibu bercerita bahwa ia terbangun dan tergerak hati beliau untuk mengecek kondisi kakak. Saat itu kakak sempat memanggil ibu. Ibu memberinya minum dan terus berada di sisi kakak. Aku menyusul naik ke lantai 2 (kamar kakak) setelah dibangunkan ipar pada pukul 5 subuh. Kulihat kakak ketigaku, almarhum, dan ibu. Saat itu ibu sudah mengelus kepala dan menyapu-nyapu kelopak mata kakak (almarhum) dengan dzikir yang tak putus-putus.
Ya, Allah...Kasih seorang ibu memang tak pernah lekang oleh waktu...Subhanallah...Subhanallah...
Saat aku menyentuh badan almarhum masih hangat, meski jari tangan dan kaki mendingin. Detak jantungnya pun masih bisa kurasakan saat itu. Melihatnya membuat mataku pedis...Lalu ibu menyuruh aku shalat duluan setelah adzan subuh selesai berkumandang. Di dzikirku sebelum berdo'a aku mendengar iparku menelepon entah siapa. Dan berita yang kudengar ialah kakakku telah meninggal dunia...Innalillah...

Hatiku sakit. Perih...Serasa dihantam palu...Rasanya bukan main...
Kematian adalah hal yang akan dilalui oleh setiap makhluk Allah SWT. Namun kali ini...aku merasakan sakit yang luar biasa. Terlebih ketika diperjalanan menuju pemakaman. Segala keegoisan, sikap marah, sikap sombong, sikap tak mau mengalah, sikap cuek, sikap kasarku pada almarhum..terus bermain-main di ingatanku. Pernah suatu ketika (di awal sakitnya) almarhum bertanya padaku di universitas mana aku lulus dan aku bisa dibilang tak menggubrisnya. Padahal mungkin almarhum berkata sekuat yang ia bisa. Bertanya padaku dengan sedikit tenaga yang masih tersisa...Mengingat pesan almarhum untukku yang disampaikan oleh ibu membuatku tak berhenti menangis. Aku sangat sedih...Saaangaaatt sediih...Aku menyesal dengan segala kebodohanku...

Kebodohanku karena tak bisa sabar menghadapinya...
Kebodohanku karena membiarkan syetan sering menguasaiku...
Kebodohanku karena berpikir untuk membenci orang yang memang patut kuakui dan kuanggap sebagai saudara kandung...
Kebodohanku untuk segala hal yang mungkin bisa merontokkan bekal amalanku...
Aku tahu dengan menyesal ia takkan kembali. Penyesalan memang selalu ada di belakang. Dan keegoisanku selama ini berbuah penyesalan. Aku terlanjur tidak menyukainya. Maka Tuhan pun berkehendak. Ia menggoreskan sejarah di hari bersejarahku. 7 Juli menjadi keputusan Allah SWT. untuk mengambil kembali kakakku, Ical...

Usia yang menginjak 19 tahun bisa dibilang dewasa, akan tetapi sifat dan sikapku masih jauh dari dewasa. Aku sangat kekanak-kanakan. Sering kali tak menghargai apa yang sudah diberikan-Nya. Sering kali sombong dan menyakiti perasaan orang lain...Dengan segala sifat dan sikap minusku...
Mungkin...inilah teguran bagiku....

Sesungguhnya hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi semua makhluk Allah di muka bumi ini...

Ya, Allah...Ya, Tuhanku Yang Mahakuasa...
Ampunilah segala kesalahan dan kekhilafanku di masa lalu...
Hambah mohon...ampunilah hambah ya, Allah...
Ampuni hambah ya, Allah...

Aku memaafkan almarhum...
Aku memaafkan almarhum...
Aku memaafkan almarhum...
Akankah ia memaafkanku juga ya, Allah..???
Semoga...
Semoga ia memaafkanku...

Ya, Allah...Ya, Tuhanku yang Maha Pengasih...
Terimalah ia di sisi-Mu. Ampuni segala dosa dan kesalahannya. Limpahkan kasih sayang dan Ridho-Mu padanya. Terangilah kuburnya dengan cahaya kasih-Mu ya, Allah...
Hambah mohon Ya, Allah..
Hambah mohon...

Kini...hanya do'a yang dapat hambah panjatkan untuk almarhum ya, Allah. Terimalah do'a hambah...Maafkan dan ampunilah keegoisan hambah ya, Allah...
Kuatkan iman hambah. Kuatkan iman hambah. Kuatkan iman hambah. Berikanlah kesabaran dan sifat kasih sayang pada hambah. Izinkan hambah menjadi orang yang dapat memaafkan dengan mudah...Hambah mohon Ridho dan Rahmat-Mu ya, Allah...Tolonglah hambah agar dapat menjadi hambah yang lebih baik lagi...Agar dapat menjadi muslimah yang sebenarnya...
Tolonglah kami, orang-orang yang ditinggalkan almarhum...
Ampunilah kami...Ampunilah kami ya, Allah...
Karena sesungguhnya hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu jualah kami memohon pertolongan...
Terimalah do'aku ya, Allah...

Selamat jalan, kakakku...
Selamat jalan, saudaraku...
Semoga kau tenang di alam sana...

Aamiin..
Aamiin..
Ya, Rabbal alamiiin...


*sang adik,
aku.

1 comment:

  1. sabar ya dek...
    saat ini yang paling dia butuhkan adalah doa dari semua orang, jadi jangan bosan2 didoakan kakaknya.

    Semoga Allah menerangi dan melapangkan alam kuburnya... amin..

    ReplyDelete

say what u need to say.. ^_^