Saturday, April 17, 2010

Ritme Musim Gugur(ku) untuk LMCR 2009

Assalam,,,Konbanwa~
Hisashiburi desu ne...minna saaan? Ogenki desuka?
Udah lama gak posting blog..huhuhu. Kangen juga sih..soalnya blog ini terbengkalai dalam kurun waktu yang tak sedikit untuk kesekian kalinya (haalaahh..). Kalo blog ini ibarat rumah, mungkin sudut2 dindingnya udah penuh jaring laba-laba kali yah? -_-" *Gomen ne,blogku... (_ _")a
OK!! Kali ini aku mau posting cerpen yang pernah aku lombakan di LMCR 2009 (Lomba Menulis Cerpen Remaja 2009) yang diadain ma PT.Rohto tahun lalu. Ini cerpen ke-2 yang aku kirim untuk lomba. Cerpen yg pertamaku, Nyoba-Nyoba Nyambi, gak tahu gimana nasibnya...hahahaa XD. Tapi cerpen yang ini nih..Alhamdulillah berhasil nyabet juara favorit! Ah, sudahlah.silahkan dibaca saja..^^
================

RITME MUSIM GUGUR
Oleh : yang punya blog, Rahmah.



Malam di jalan-jalan kota besar seperti Llanel City tidak bisa dikatakan sunyi. Malam-malam di sini seperti siang. Ramai dan hidup. Khususnya kawasan yang sering aku jadikan tempatku menggelar live concert kecil-kecilan. Live concert..Hm.. aku senang menyebutnya begitu. Musik bagiku adalah untaian nada indah yang dapat mewarnai hidupku. Aku bisa bermusik dengan bebas.

Banyak orang yang lalu lalang di sini. Lampu-lampu jalan dan papan pertokoan begitu terang menyilaukan. Aku sering menggelar konser sederhana untuk memperkenalkan lagu-laguku. Ya, lagu ciptaanku sendiri. Aku senang mendendangkan lagu dengan ditemani gitar kesayanganku. Aku memainkannya seorang diri di salah satu trotoar jalan yang cukup lebar. Distin Park sebelah timur menjadi saksi bisu perjuanganku selama ini. Ya, aku membenarkan bahwa yang kulakukan ini adalah perjuangan.



Aku senang bernyanyi sambil memainkan gitarku di depan sebuah graffity besar membentang dari sisi barat ke sisi timur. Ada orang yang acuh tak acuh lalu lalang di hadapanku. Ada pula yang menyempatkan diri untuk menonton pertunjukanku. Aku tak meminta imbalan. Aku tak mengharapkan uang dari yang menontonku di jalan. Aku hanya mengasah kemampuanku, menyampaikan pada orang banyak inilah karyaku. Jika saja ada produser musik yang melirik dan tertarik pada laguku aku akan lebih senang lagi. Pertunjukan yang kulakukan sudah sangat umum di kota besar ini. Karena memang bukan cuma aku yang suka bermusik di sisi jalan. Di taman kota, di tangga, di sisi pertokoan, di kawasan komunitas pemusik, semuanya ramai dengan lantunan lagu. Tidak siang, tidak malam. Bahkan dua kali sebulan, ditiap Sabtu malam, akan ada yang mengkoordinir sebuah kegiatan dimana aku dan pemusik lainnya menampilkan performance kami secara bergiliran.

“Lagu yang bagus...” ujar salah satu dari mereka yang menyaksikanku.

“Aku akan datang lagi besok. Aku harap kau ada” ujar yang lain.

Aku tersenyum. “Terima kasih. Tapi besok aku tak memiliki jadwal untuk datang ke sini. Aku harus kuliah dan bekerja...” Ya, aku memang tak setiap hari mengadakan pertunjukan. Hanya di hari-hari tertentu saja. Aku sudah membuat schedule nya dengan rapi. Aku tak akan lupa kewajibanku sebagai mahasiswa semester tiga.

Aku mengucapkan terima kasih dan selamat malam pada semua yang menyaksikanku. Aku senang melihat senyum mereka. Aku bangga saat ada yang berkata agar aku datang lagi dikeesokan hari. Di luar semua perasaan itu, aku sangat letih. Karena sebelum aku melakukan pertunjukan kecil tadi, aku baru saja selesai bekerja dari part time ku. Aku mengepak barang-barangku. Hanya sedikit. Botol air mineral dan handuk kecil kumasukkan ke dalam tas. Tak lupa aku memasukkan gitar kesayanganku ke dalam tas gitarnya. Aku ingin beristirahat dan pulang ke apartemen sederhanaku. Besok pagi aku harus berangkat kuliah.

Aku mengurungkan niatku sejenak untuk melangkah lebih jauh menuju apartemen. Mataku menangkap sesosok gadis. Gadis itu sendiri lagi, pikirku. Ia masih betah duduk di bangku panjang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Bangku yang menghadap dua sisi. Sisi yang menghadap jalan raya, dan sisi yang menghadap trotoar jalan. Trotoar di sini memang lebar-lebar. Gadis itu memilih sisi bagian dalam agar bisa melihat layar atau ‘papan pesan berjalan’. Biasa disebut message board electric. Gadis itu masih membidikkan handycam kearah layar lebar itu. Gadis yang pernah menemuiku di siang hari yang terik...

Saat itu mentari masih memancarkan sinarnya yang dahsyat, walaupun musim panas akan segera berakhir, berganti musim gugur. Aku berdiri di sisi panggung sederhana yang dibangun di trotoar lebar bergraffity. Dengan kaos putih yang nyaman aku duduk meneguk air dingin menyegarkan dari botol. Sambil mendengar lagu dari pemusik lain, aku menyapu seisi tempat itu dengan mataku. Dan mataku menangkap gadis itu. Gadis dengan mantel merah bertudung. Aku sadar bahwa ia berjalan ke arahku. Maka aku menyibukkan diri kembali seakan tidak mengetahui kedatangannya. Betul saja, ia telah ada di depanku.

“Layar datar besar yang di sana itu bisa menampilkan pesan, kan?”
Aku menoleh padanya. Dan melihat gadis bertudung itu menunjuk papan pesan yang berukuran besar tak jauh dari tempat kami. “Iya,” jawabku singkat.

“Mengapa tak ada pesan yang muncul di situ?” Kulihat wajah gadis ini agak pucat di balik tudungnya. “Kapan layar itu akan menyala dan menampilkan pesan-pesannya? Bukankah sekarang sudah pukul lima? Seharusnya ia sudah menyala, kan?” tanyanya bertubi-tubi.

“Siang hari di musim ini berlangsung lebih lama dari malam hari..” Jawabanku membuat dahinya berkerut.

“Apa pesan yang sudah lewat masih bisa ditayangkan lagi? Aku tidak sempat melihat pesan penting yang muncul semalam..”

“Tergantung.. Bisa iya, bisa juga tidak”. Gadis mantel merah ini berkacak pinggang. “Kau warga asli sini, kan? Mengapa jawabanmu tidak yakin seperti itu? Kau sering berada di sini, kan? Seharusnya kau tahu jawaban pertanyaanku..!”

Aku agak tidak suka dengan sikapnya. Panas-panas begini sudah di‘semprot’ orang asing. Aku katakan saja, “Kau pasti tidak berasal dari kota ini. Seharusnya kau ingat kalau aku bukan pemandu wisatamu. Mana aku tahu segala hal tentang layar raksasa itu?! Apa kalau aku penduduk asli sini aku harus mengamati layar pesan itu setiap waktu? Tidak, kan?! Sebaiknya kau bertanya pada petugasnya saja! Jangan padaku! Lagipula begitu banyak orang di sini, kenapa harus aku yang kau tanyai?! Dengan sikapmu yang seperti itu aku jadi malas menjelaskannya padamu!” Aku betul-betul tak bisa mengerem kalimatku. Sebagai laki-laki aku sadar, aku tak ramah pada gadis itu. Wajah gadis yang kurasa semula pucat itu telah berubah merah.

Belum sempat aku meralat ucapanku tadi, gadis itu segera berbalik dan menjauh dariku. Menjauh dari layar raksasa dan menghilang di tikungan jalan. Setelah peristiwa itu aku tak pernah lagi bertemu gadis itu di siang hari. Selama berhari-hari aku hanya menemukannya ketika malam telah datang. Aku sering mendapatinya saat aku berjalan dari halte bis sepulang kuliah, atau ketika aku mengadakan pertunjukan musik. Ia memang kerap datang dan duduk di kursi trotoar sepanjang malam. Tapi ia tak mendatangiku lagi seperti di siang itu meski aku mengadakan pertunjukan musikku di tempat yang sama. Di tempat dimana suaraku bisa menjangkaunya yang sedang melihat layar besar berisi pesan. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya ia tunggu dari layar itu dengan handycam nya.

“Ng..belum pulang..?” tanyaku setelah duduk di ujung bangku panjang tempat ia berdiam seorang diri. Aku memutuskan untuk menemui ‘si gadis mantel merah bertudung’.
Aku menunggu. Namun tak ada jawaban. Aku bertanya lagi, pertanyaan yang sama. Masih tak ada jawaban. Aku menoleh ke arahnya dengan alis berkerut.

“Hei! Kau ingat aku, kan?” tanyaku lagi. Namun, gadis ini masih tak bersuara. “Mengapa kau tidak menjawabku? Kau marah? Seharusnya kau tahu tata krama..ng, etika.. ketika berbicara dengan orang lain. Jika ada yang bertanya padamu, kau harus menjawabnya. Lagipula pertanyaan sesimpel itu saja kau ti-“

“Aku menganggukkan kepalaku sejak tadi! Kau saja yang tidak lihat..!” potongnya kemudian. Ia telah memasang wajah cemberutnya sambil menatapku. Aku agak kikuk.

“Tata krama berbicara katamu? Bukankah kalau kau bertanya pada seseorang kau harus melihat lawan bicaramu itu? Jadi kau bisa tahu apakah lawan bicaramu menjawab hanya dengan anggukan atau gelengan kepala!” lanjutnya, nampak membalas perlakuanku dulu. Ia lalu membuang muka.

Skak mat! Belum sempat aku memikirkan kesalahanku. Gadis bertudung itu berkata lagi.

“Apa tidak ada pertanyaan yang lebih berbobot yang bisa kau tanyakan? ‘Belum pulang?’ Ah, pertanyaan sekelas anak SD.. Sudah jelas aku masih di sini, kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutmu?”

“Sesukamulah..”

Kupalingkan wajahku ke depan. Melihat beberapa pesan yang muncul silih berganti. Aku tahu meladeni gadis seperti ini takkan ada ujung pangkalnya. Jadi aku lebih memilih untuk diam saja.

“Dimana message board paling besar dan paling tinggi di kota ini?”
Aku menoleh seketika padanya. “Kau bertanya padaku?”

“Tidak. Aku bertanya pada rumput yang bergoyang..”

Oh, ya. Anak ini memang cepat ‘panas’. “Setahuku message board yang tertinggi ada di Llanel Tower. Besarnya..hm..cukup besar.” Apa jawabanku ini memuaskannya?

“Menurutmu apa pesanku dari layar raksasa itu bisa sampai ke surga?”

Aku heran dengan pertanyaannya. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis bertudung ini? Surga katanya?

* * *


Llanel City mendung seutuhnya. Namun tidak bagi hatiku. Apartemen kecilku baru saja kedatangan seorang yang sangat berpengaruh di dunia musik. Ia berkata bahwa ia melihat pertunjukanku setelah mendengar kabar yang beredar tentang live performance yang sering dilakukan para anak muda di jalan-jalan kota Llanel. Ia cukup takjub mengetahui bahwa musik dan lagu yang kumainkan adalah ciptaanku sendiri. Jelas saja, aku memang alumni salah satu sekolah musik yang kutekuni diluar High School ku dulu. Sejak masih di Junior School pun aku memang sudah mengarang beberapa lagu. Tapi di sekolah musik itu aku memantapkan kesenanganku. Hingga hari ini, seseorang mengajakku untuk mengikuti sebuah audisi dalam waktu dekat. Tepatnya hari Sabtu depan. Ia berkata jika saat ini sedang dibutuhkan bintang baru di blantika musik. Tentu saja aku menerima ajakan ini. Ini kesempatan yang baik bagiku, setelah aku menolak ajakan serupa setahun lalu akibat terbentur masalah kuliah. Saat itu rasanya sayang jika menyia-nyiakan beasiswa dari universitas dambaanku yang terkenal itu.

Aku memberitahu kabar gembira ini pada si gadis bertudung merah sebelum aku mengabari keluargaku yang ada di luar kota. Ya, selama ini aku sering menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Di tempat yang biasa. Di waktu yang sama. Gadis itu selalu mengenakan mantel merah bertudung. Dan aku sering berpikir untuk menanyakan mengapa ia tetap memakai tudung kepala mantelnya meski di malam hari. Tapi pertanyaan itu tak pernah jadi kulontarkan. Dan selama kami bertemu itu aku belum tahu dengan pasti alasannya menunggu pesan di setiap malam, belum tahu asal usulnya, belum tahu nama aslinya...

“Itu bagus. Semoga kau berhasil!” ucapnya setelah mendengar kisahku mengenai rencana untuk ikut audisi lusa nanti.

“Hanya itu?”

“Memangnya mau bagaimana lagi?”

Apa yang ia katakan ada benarnya juga. Ia tidak berkata yang muluk-muluk. Ia langsung menuju sasaran. Mendoakan keberhasilanku. Dan aku mengucapkan terima kasih padanya.

* * *

“Ayo, kita ke kantor pemasangan pesan itu. Kita meminta petugasnya untuk menayangkan ulang pesan yang ingin kau lihat..” ajakku pada gadis bertudung.

“Bisakah?”

“Tentu saja. Apa kau tidak pernah mencobanya?”

“Aku pernah. Tapi mereka berkata kalau pesan yang sudah ditayangkan telah dihapus. Dan masih banyak pesan yang menunggu giliran untuk dimunculkan..”

“Hm..Kau tahu pesan itu milik siapa?”

“Ya. Ng..Sahabatku.. Tapi aku tak tahu apa isi pesan itu.. Aku belum melihatnya sekalipun”

Aku berpikir sejenak. “Mungkin kau kurang berusaha. Salah seorang temanku pernah mencoba ke kantor itu dan meminta mereka memutar ulang pesannya untuk seseorang. Batas pesan itu disimpan sebagai ‘arsip’ agar bisa diputar ulang adalah sebulan. Jika dalam sebulan tak ada permintaan untuk menayangkan ulang, barulah ‘arsip’ itu dihapus. Jadi mungkin pesan milikmu itu masih ada pada mereka..” jelasku panjang lebar.

Ia menyentakkan badannya ke sandaran bangku. Membuatku kaget. “Kau jahat tidak memberitahuku tentang semua itu sejak awal!!”

Terlintas di kepalaku pertemuan awal kami di siang hari. Aku menghela nafas.

“Oh.. Kau tahu kalau hari itu kau bersikap sedikit menyebalkan? Baru aku mau jelaskan saja, kau sudah pergi..” ucapku.

Hening. Ada jeda yang cukup lama setelah pembelaanku. Angin malam terasa sejuk. Musim gugur telah tiba sejak beberapa hari yang lalu. Aku dan gadis bertudung merah ini masih duduk di bangku yang biasanya. Aku tak memiliki jadwal apa-apa. Aku hanya ingin menemaninya malam ini.

Ia menekan turn off pada handycamnya dan bangkit berdiri.

“Kapan kau punya waktu menemaniku ke kantor itu?”

* * *

Di sinilah, aku dan dia berdiri menunggu waktu munculnya pesan dari sahabatnya. Pesan yang seharusnya ia terima berminggu yang lalu. Angin malam berhembus pelan. Aku duduk di sampingnya. Melihat ia membidikkan lensa handycam dan bersiap merekam pesan yang akan muncul. Seberapa penting pesan itu hingga ia bersusah payah melakukan semua ini?

“Memangnya ada apa dengan sahabatmu itu sampai kau rela melakukan semua ini?” Sudah sejak lama aku ingin menanyakan hal ini padanya.

“Dia bukan sahabatku. Aku berbohong..”

Jelas aku kaget. Ia membohongiku..? Belum lagi aku angkat bicara, ia sudah mendahuluiku.

“Dia pacarku.” Jantungku berdegub keras sedetik tadi mendengar kalimat gadis bertudung ini. Sejak awal gadis ini mempermainkanku. Ia tak jujur padaku. “Petugas di kantor itu sempat berkata ‘oh, pesan yang muncul jam 12 malam tanggal 25 Agustus itu dari pacarmu, ya? Namanya Ryo, betul?’...Mungkin kau tak sadar, tapi aku sangat berterima kasih atas segala bantuanmu. Tanpa kau mungkin aku takkan pernah tahu pesan terakhir Ryo untukku..” lanjutnya.

Perasaan yang kutahu adalah cemburu sedikit mereda dengan kalimat terakhirnya yang penuh tanda tanya. Pesan terakhir?

“Ia sudah pergi meninggalkanku..” kata gadis yang masih saja mengenakan tudung mantel merahnya ini. Masih menatap layar raksasa.
Oh, ditinggalkan? Pantas saja! Pacarnya itu mungkin bosan dengan sikap kekanak-kanakannya. Aku menoleh pada layar raksasa sambil mengangkat alis. Melihat layar tapi tak benar-benar memperhatikan pesan yang muncul silih berganti di sana. Namun aku merasa bersalah ketika medengar lanjutan kisah gadis ini.

“Ia meninggal...” kudengar helaan nafasnya, lalu ia melanjutkan. “Hm.. Selama ini aku dan dia berpacaran jarak jauh. Kami memulai hubungan kami sejak kelas tiga SMA saat dia menjadi siswa baru di sekolah, di kota tempat tinggalku. Begitu lulus, ia kembali ke tempat ini. Seharusnya saat ia kembali ke kotaku, aku menyambutnya dengan hangat. Namun karena suatu hal aku bertengkar hebat dengannya. Dan pertengkaran kali ini berbeda. Pertengkaran kami parah. Hingga ia pun memutuskan untuk pulang saja ke tempat ini. Aku tak pernah membalas sms, e-mail ataupun menjawab teleponnya. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kota ini, menemuinya secara langsung untuk meminta maaf atas segala keegoisanku selama ini..” tutur gadis ini. Aku tak berani memotong kisahnya. Aku hanya mengangguk pelan tanda aku menyimaknya.

Gadis itu melanjutkan setelah terdiam sejenak. Ia memainkan layar handycamnya. Nada suaranya sedikit berubah. “Tepat sebelum kecelakaan itu terjadi ia mengirim pesan ke handphone ku agar kami bertemu di tempat ini saja. Di depan layar ini. Ia ingin memperlihatkan sesuatu padaku. Sesuatu yang ia katakan sederhana namun itu sebagai permintaan maafnya yang tulus. Namun malam saat aku menunggu, ada telepon dari temanku bahwa Ryo mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil dan pelakunya sempat melarikan diri. Aku meninggalkan tempat ini dan pergi ke rumah sakit yang disebutkan temanku. Namun aku tak sempat bertemu dengan Ryo. Ia sudah tak ada.. Ia benar-benar telah pergi.. Dan pagi saat aku kembali ke sini, aku terus menunggu. Menunggu pesan darinya untukku. Menunggu hingga tiba hari ini...” Ia menunduk. “Hm, itu cerita yang sebenarnya..”

Aku tak melepas pandanganku pada gadis ini. Aku melihat sisi wajahnya dari samping. Namun wajahnya tak jelas terlihat karena terhalang tudung merah. Ah, apa itu mantel bertudung pemberian almarhum pacarnya? Gadis ini memang tak pernah membuka tudung kepalanya ditiap malam aku bertemu dengannya.

“Mantel itu..pemberian Ryo?”

Gadis itu mengangguk. Lalu berbalik kearahku dengan tiba-tiba. Ia tertawa. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa ia bisa tertawa seperti itu? Apa jangan-jangan ia membohongiku lagi? Mempermainkan perasaanku?

“Lihat ekspresi wajahmu! Hahahaa..Skor kita 2 – 0!”

“Hah? Skor apa lagi itu?!!”

Waktu ditayangkannya pesan yang dimaksud tiba detik ini juga. Kami menoleh bersamaan. Menatap layar datar yang lebar. Sebuah video message muncul, bukan pesan yang ditulis biasa, bukan pesan yang umum seperti yang sudah-sudah. Tampak di hadapanku daun khas musim gugur berjatuhan di sore hari. Membersihkan layar. Dan mengundang bulan untuk tampil di layar. Bulan, langit malam yang hitam, dan pucuk pohon cemara, serta bintang yang berkerlap-kerlip indah. Sebait kata muncul satu demi satu. Pesan yang begitu singkat namun bisa menggetarkan hati orang yang mengerti makna pesan itu. Pesan itu terulang lagi. Terulang lagi, beberapa kali.

Kulihat si gadis bertudung masih membidikkan handycam nya. Aku tak tahu apa yang tengah ia pikirkan dan rasakan sekarang. Jika aku saja merasa sedih, bagaimana dengan dirinya? Tapi gadis ini tampak tegar dan terlihat tenang-tenang saja. Aku masih berpikir begitu hingga kepala si gadis jatuh menunduk tiba-tiba. Aku tak melihat matanya. Namun aku tahu air bening yang menetes itu adalah air mata gadis bertudungku. Air mata yang tak henti-hentinya berjatuhan..
Aku menurunkan gitarku dan mendekatinya. Aku ingin membuka tudung kepalanya. Ingin melihat dengan jelas wajahnya. Menenangkannya dan membiarkan ia menangis di dadaku. Isak tangisnya yang makin lama makin jelas membuat hatiku sakit. Aku sungguh tak tega. Kini aku yakin ia tak membohongiku. Ia menceritakan yang sebenarnya dengan begitu tabah padaku.

“Jangan lepaskan tudung kepalaku!” pintanya sambil memegang tanganku yang kujulurkan kearahnya, hendak menarik tudung itu kebelakang.

“Mengapa? Aku ingin menghapus air matamu..” kataku.

“Dia senang melihatku memakai tudung kepala seperti ini. Ia bilang kalau aku terlihat manis saat mengenakannya. Biarkan aku seperti ini setidaknya untuk saat ini saja! Aku tak ingin ia melihatku bersedih. Ia tak suka melihat wajahku saat menangis! Saat menerima kabar kematian Ryo hingga hari ini, baru sekali ini aku menangis! Aku tak ingin ia tahu dan khawatir! Jangan lepas tudung kepalaku..” ia mengulangi kalimatnya sambil terus menangis pilu.

Aku tak kuat lagi melihatnya bersedih. Aku mendekapnya dalam pelukanku. Membiarkan air matanya membasahi baju yang kukenakan. Melihatnya membuatku merindukan mimik kesalnya, mimik marahnya, mimik usilnya, mimik tenangnya, mimik ketika ia tertawa membodohiku...


...I wanna be like the stars in the sky
I know that you can not see me in everytime
But,
i will always in there...


* * *

Malam-malam berikutnya aku tak pernah melihat gadis tudung merahku lagi. Malah sekarang aku merasa menggantikannya duduk berlama-lama di bangku panjang ini bersama gitarku, atau bersama tas kuliahku. Aku ingin memberitahunya bahwa audisiku sukses, setelah aku mengabari keluargaku lebih dulu. Dan aku akan tampil di acara meet ‘n greet pada salah satu stasiun televisi.

Aku mendapat skor yang tinggi dari para juri dalam audisiku. Menurut mereka aku berbeda dari puluhan ribu peserta lainnya sebab aku berani membawakan lagu ciptaanku sendiri. Lagu yang mengisahkan pertemuanku dengan seorang gadis yang sering mengenakan mantel merah bertudung. Dimanakah gerangan gadis bertudung merahku kini..?
Handphone ku berbunyi. Aku menjawab telepon dari manager ku. Ia berpesan agar besok aku datang ke perusahaan rekaman untuk menandatangani kontrak. Ah, rasanya canggung sekali. Tapi aku merasa akan melangkah ke jenjang yang lebih baik setelah memenangkan audisi itu. Lagu dan musikku disukai banyak orang. Dulu aku hanya bermimpi bisa menciptakan lagu dimana orang akan menyanyikannya setulus hati. Namun tak kusangka, kini aku juga akan menyanyikan lagu-lagu itu.

Kulihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 20.41 malam. Aku memutuskan untuk beristirahat saja di rumah. Melihat layar pesan ini aku jadi mengantuk. Itu pikiranku beberapa detik yang lalu sebelum mataku menangkap sosok gadis yang tengah berdiri di ujung bangku panjang dengan tangan di saku mantel merah bertudung.

“Hei, boleh aku lihat permainan gitarmu?” tanyanya sambil tersenyum. Seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ya, ia gadis yang kucari selama ini.

Terbata aku menjawab, “bo,boleh..”

Ia lalu duduk tak jauh di sampingku. Menungguku memetik gitar dengan wajah antusias. Tanpa beban. Aku tak menawarkan padanya lagu apa yang sebaiknya aku nyanyikan untuknya malam ini. Karena aku telah memilih sendiri sebuah lagu. Lagu tentang dirinya. Di pertengahan lagu ia memalingkan wajahnya ke depan. Seperti memandang layar lebar berisi pesan yang bercahaya. Aku menyelesaikan laguku. Ia menoleh padaku sambil membuka tudung merahnya. Inilah kali pertama aku melihat dengan jelas rambut gadis ini. Hitam, lurus sebahu, dan begitu halus.

“Di sini panas...Aku tak tahan” ujarnya mengibas-ibaskan tangan sembari tersenyum manis. Lesung pipit di pipi kirinya bisa kulihat dengan jelas. Gadis ini sangat cantik...

“Darimana saja kau selama ini?” tanyaku.

Ia melirikku. “Mengapa kau begitu peduli? Apa jangan-jangan kau merindukanku?” tanyanya setelah tertawa kecil. Aku tahu ia hanya meledekku.

Tapi inilah jawabanku, “Iya. Aku rindu..”

Seketika itu ia terdiam. Tampak kikuk, ia mengambil gitar dari tanganku.

“Aku tidak dari mana-mana. Aku hanya di rumah bibiku. Melakukan aktivitasku sama seperti hari-hari sebelum aku ke tempat ini. Hm..menonton TV misalnya. Lalu aku melihat seseorang yang kukenali sedang diwawancara. Kulihat orang itu sangat bahagia dengan prestasinya. Aku juga turut bahagia untuknya. Dan malam ini aku beruntung bisa bertemu lagi dengannya. Aku akan mengucapkan ‘sampai berjumpa lagi’ padanya. Karena besok aku akan kembali ke tempat asalku..Ke rumahku..”

Aku tersentak mendengarnya. Ucapan gadis ini memang selalu saja membuat jantungku hampir lepas. “Kau mau pergi??”

“Ya. Kuliah perdana menungguku. Aku ini juga sibuk sepertimu, tahu..!”
Kami terdiam lagi. “Apa kita akan bertemu lagi?” lanjutku.

“Ya. Aku mengatakan ‘sampai berjumpa lagi’, kan? Yeah..Jika kau ingin?”

“Tentu saja aku ingin. Apa kau tidak?”

Mendengar ucapanku gadis itu hanya tersenyum. Dan berkata sambil menatap lurus kedepan, “Terima kasih”, ia lalu menoleh kearahku dan kembali berucap, “Kau mungkin sudah bosan mendengarnya. Tapi aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku benar-benar berterima kasih atas segalanya. Maafkan aku telah menyusahkanmu. Kau laki-laki yang baik. Sangat baik. Meski sampai detik ini aku belum mendengarmu menyebut namamu secara langsung padaku. Aneh juga..,” ia tertawa, lalu melanjutkan, “tapi..terima kasih!”

Gadis ini bangkit berdiri. Dengan penuh semangat ia berkata, “Baiklah! Aku harus segera pergi sekarang. Bibi menungguku. Ng, kau juga harus pulang. Beristirahatlah! Selamat malam..”

“Allen. Allen Vae.” Ia menghentikan langkahnya saat aku menyebutkan namaku. Aku telah bangkit dari bangku. “Aku ingin tahu..Siapa namamu?”

Ia berbalik dengan kedua tangan di saku mantel merah. Sambil berjalan mundur ia menjawab, “Lois. Kiyora Lois. Oh ya.. Apa judul lagu tadi?”
Jujur, aku belum tahu judul apa yang kurasa cocok untuk lagu satu itu. Lagu tentang dirinya. Sejenak aku terdiam. Lalu kujawab, “Autumn Rhythm..”

Lois tersenyum. Loisku yang cantik. Ia berkata, “Lagu yang indah..” lalu berbalik lagi, meneruskan langkahnya. Tanpa menoleh sekali pun.
Aku masih terdiam. Melihat Lois berjalan semakin jauh. Handphone yang berdering menyadarkanku. Bukan untuk menjawab telepon seseorang, tapi menyadarkanku bahwa aku memang tak ingin kehilangan gadis bertudung merahku begitu saja. Tanpa pikir panjang aku menarik gitar yang telah kumasukkan ke dalam tasnya dan kusematkan di pundakku. Aku berlari mengejar Lois sebelum gadisku menghilang di tikungan. Sebelum ia menghilang lagi...



*SELESAI*


===================

Nee,minna...dou deshitaka?? ^,^
aku akan berusaha menulis lebih baik lagi.. :)
Jya, sampe ketemu di postingan berikutnya..Arigatou ne~! :) Wassalam,,,


luvly,
Rahmah 'akizora' :)

3 comments:

  1. Wah aku suka, aku suka,,,
    izin posting ulang yea kak,,

    ReplyDelete
  2. Anonymous5:21 AM

    keren

    ReplyDelete

say what u need to say.. ^_^