Saturday, November 06, 2010

Malaikat Itu Bernama...[untuk LMCR 2010]

Assalam,,,
Seperti yang sudah2..postingan dibuka dengan salam agar yang membaca dan mendapat do'a ini diberi keselamatan dunia dan akhirat oleh-Nya..^_^ Aamiin Ya Rabb..

Kawan2, kali ini akan aku posting salah satu cerpen yang kutulis bulan September kemarin. Ide cerpen ini udah ada sejak Desember 2008 dan udah kutulis dengan tokoh utama perempuan. Namun, begitu aku ingin mengirimnya ke Bogor dalam rangka ikut lomba cerpen, bulan September kemarin aku lakukan revisi lagi di sana sini, banyak. Bahkan tokoh utamanya jadi laki-laki..hehehee

Iya, sebenarnya cerpen ini aku ikutsertakan dalam LMCR 2010 yang diadakan oleh PT.Rohto dan Raya Kultura bulan lalu, tapi sayang nasibnya tidak sama seperti sepupunya terdahulu "Ritme Musim Gugur" yang sempat menyabet juara favorit. Hahahhaa..kayak tinju [santemoco..yang dapat juara favorit waktu itu bukan cuma diriku! banyaaaak peserta yang juga juara!hehee]. Cerpen berjudul "Malaikat Itu Bernama.." ini gak dapat juara. Cerpenku mungkin masih banyak kekurangannya, atau malah gak meningkat sama sekali kali yah? hahahaa..Derita gue~. Sedih juga sih kalo ternyata aku masih jalan di tempat atau mengalami kemunduran dalam menulis cerpen. Namun, kesedihan itu ditepuk dengan bijak oleh rasa optimis untuk terus berkarya selama masih diberi nafas oleh-Nya. InsyaAllah, Aamiin. Lagipula sungguh, bukannya ke-PD-an tapi aku suka cerpenku yang ini! Agak2 sok tahu memang..tapi suka saja. Apalagi teman2 yang pernah baca juga suka katanya. Alhamdulillah kalo gitu..nampaknya cerpen ini masih masuk di akal..hahahaa



Perlu diingat bahwa di dalam kamusku tidak ada kata MENYERAH!! (..karena memang halaman yang ada kata 'menyerah'nya sobek..hohohohoo)
Nah, tanpa berlama-lama lagi, silangsungngang maki' naaah..Mariki' di...^o^)/

====================

MALAIKAT ITU BERNAMA...
Oleh : Yang Punya Ini Blog, Emma ^_^


“Yas...”

Suara selembut kapas terdengar lagi dari tempat yang jauh. Nyaris berbisik. Tertatih aku menggapai-gapai keberadaan suara lembut itu dalam gelap yang tak benar-benar sunyi sekarang. Suara-suara lain masih mengusikku. Bising ditengah usahaku mencari satu kerinduan yang pasti. Suara lembut itu memanggil lagi. Kali ini seperti merayuku dengan nada khawatir yang tak bisa kupahami. Apa ia sedang bersedih? Mengapa? Aku terus berusaha menemukannya. Titik kecil dikejauhan nampak meluas perlahan, memberi ruang yang lebih terang pada kegelapan yang mengungkungku. Memberi harapan. Samar-samar kurasakan kelopak mataku bergetar membuka dengan lemah. Isakan bahagia menanti di ujung kesadaranku, sangat jelas. Retinaku menangkap cahaya gurat sedih juga bahagia wajah tirus wanita separo baya yang telah lebih dulu beranjak mendekati wajahku.

“I..bu..” lirihku. Satu kata yang mampu terlontar dari mulutku yang pahit.

“Oh Ilyas..Syukurlah. Kau sudah sadar, Nak” ucap ibuku pelan penuh haru. “Dokter akan segera ke sini. Ayahmu keluar memanggilnya” lanjutnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyembunyikan titik bening di sudut mata sayunya.

Tidak butuh waktu lama untuk menyadari keberadaanku sekarang. Dinding dan kain putih, bau samar amoniak, suara tetes cairan dari botol infus yang tergantung tak jauh dari tempatku berbaring, serta selang oksigen tipis yang melingkar melewati leherku membenarkan kenyataan bahwa aku berada di rumah sakit. Terbaring lemah ditunggui ibu dan adikku, Nisa, yang masih menatapku cemas.

“Aku..tidak apa-apa. Tidak perlu..khawatir” kataku mencoba menenangkan mereka, mengindahkan denyut menyakitkan di kepalaku. Rasa remuk di badanku masih bisa kuatasi.

Ibu menggeleng tak percaya. “Jangan berlagak kuat, Yas. Kepalamu pasti masih sakit. Tadi saja kau mengigau..” Ia terdiam sesaat seperti tak yakin lalu melanjutkan, “mengigau tentang malaikat. Ibu khawatir melihat betapa gelisahnya dirimu atas apa yang kau rasakan saat pingsan tadi”

“Berapa lama..aku pingsan? Bagaimana aku bisa sampai di..sini?” tanyaku lemah.

Adik perempuanku mendekat ke sisi ibu dan menjawab, “Dua hari kakak pingsan. Orang yang membawa kakak ke sini teman satu kampus kakak. Dan jangan mengalihkan pembicaraan, kak. Apa yang kau lihat dalam mimpimu?” tanyanya dengan alis berkerut. Ia menggigit bibir.

Ibu menengahi “Jangan ajak bicara kakakmu dulu. Dia butuh istirahat”

“Tidak apa-apa, Ibu. Aku baik-baik saja..” ucapku parau. Lalu tanpa bisa kuelak aku meringis pilu menahan rasa sakit yang muncul lagi di kepalaku. Seakan ada luka yang ditekan oleh beban berat. Saking perihnya, refleks aku menyentuhnya dengan tanganku yang terinfus dan kurasakan perban terlilit di sana. Aku menutup mulut ibu dengan kalimat yang kulontarkan setelahnya, “Malaikat. Aku melihat malaikat..” Dan benar saja, ibu dan adikku terpana mendengar perkataanku yang jujur itu.


***



Fajar merangkak menuju singgasana alam untuk menyuguhkan pesona kemegahan-Nya. Aku yang terbiasa menelusuri jejak-jejak Sang Maestro yang terlukis indah di cakrawala, menghentikan kegiatan sejenak untuk memuji kebesaran-Nya. Kupandang semburat fajar yang merekah indah di ufuk timur dari jendela lusuh ruangan ini, seakan belum pernah kusaksikan atraksi alam seperti itu sebelumnya. Awan-awan putih berarak beriringan, menari mengelilingi sang penyinar yang masih malu-malu seolah terpesona akan kehangatan hadirnya. Seindah-indahnya karya manusia yang dihujani pujian banyak orang, masih jauh lebih indah sentuhan Tuhan Yang Maha Agung, batinku. Ketika mentari benar-benar menyapa bumi tempatku berpijak, aku membenahi peralatan lukisku. Memandang lagi lukisan yang telah usai kubuat sebagai persembahanku di hari ulang tahun wanita yang begitu kucintai, sebelum membungkus lukisan itu dengan rapi. Kukunci rapat pintu ruang seni yang kupakai berhari-hari itu lalu berjalan menjauh dengan wajah berseri.

Cahaya-cahaya bagai lampu sorot menyembul tipis melalui jendela-jendela tinggi yang berjejer rapi di dinding batu dingin kampusku. Sambil menghirup damai udara pagi disepanjang koridor terbuka yang kosong, aku berjalan agak tergesa-gesa menuju tangga. Bukan karena tak ingin terlihat mahasiswa lain atau petugas kebersihan. Bukan karena aku lapar dan ingin sarapan. Bukan karena aku ingin segera masuk ke kamar dan melepas kantuk di atas ranjang empukku. Meski ada teman atau orang lain yang melihatku di hari libur begini, meski perutku sudah berdendang tersiksa karena kekosongannya sejak semalam, meski kelopak mataku berat bagai digantungi beban, aku tetap ingin memberikan salah satu bukti sayang dan cintaku pada seseorang yang begitu kuhargai sesegera mungkin hari ini juga. Hal lain tak bisa merontokkan semangatku ini. Awalnya aku pikir begitu, tapi satu kecerobohan membuat keseimbanganku goyah. Aku terbanting dari tangga atas dan berhenti berguling tepat di saat aku tak bisa mengingat aroma cat minyak dari balik kertas yang membungkus lukisanku lagi.

Dingin, hanya itu yang kurasakan. Begitu mengusiknya dingin ini hingga aku berkutat untuk membuka mata. Aku tak merasakan apa-apa saat mataku mulai menangkap kehampaan di sekitarku, bagai di luar angkasa tanpa udara. Aku berdiri tapi tak tahu tengah berdiri dimana dan apa yang kupijak. Segalanya, kecuali aku, hitam. Tak ada suara, bahkan debar jantungku sendiri. Tak ada suara, seperti yang selama ini terus menghantui keberadaanku. Mataku menyisir sekeliling, mencoba menangkap seberkas cahaya lain. Berkonsentrasi agar dapat menangkap suara sekecil apapun. Ditengah usahaku yang sia-sia, sekelebat bayangan mulai mendekat. Begitu putih. Begitu bersih. Dari tubuhnya berpendar cahaya yang memaksa mataku menyipit meski tak ingin. Aku tak ingin kehilangan sosok itu.

“Siapa kau?” tanyaku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku begitu pertama kali melihatnya.

“Aku tinggal di tempat ini. Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku tak bisa menjawabnya. Sungguh, aku sendiri ingin menanyakan hal itu. Namun, lidahku kelu. Aku hanya bisa menelan ludah sambil berusaha mengingat-ingat. “Aku tak tahu..” jawabku pasrah.

Masih dengan tatapan bersahaja ia kembali bertanya, “Kau Ilyas, bukan?”

“Apa itu namaku?” Aku benar-benar bingung dengan keadaanku. Antara ada dan tiada.

“Aku mengenalmu. Dan kita sering berbicara. Sepertinya kau memang lupa..”
Tutur katanya begitu halus dan menenangkanku. Secercah harapan seperti dapat kugenggam kembali begitu ia berkata ia mengetahui jati diriku. Aku Ilyas. Lalu? Aku ingin menanyakan sesuatu lagi padanya untuk menghapus keraguan yang bercokol di hatiku, untuk meruntuhkan tembok yang menghalangi langkahku. Namun sebelum mulutku bersuara, ia mendahuluiku.

“Kau mau ikut denganku?” ajaknya.

“Kemana?”

Ia tersenyum. Lalu tanpa suara mulai melangkah. Suasana dingin karena kehampaan tadi membuatku tak ingin merasakannya kembali. Semakin ia jauh semakin tersayat tubuhku dengan rasa dingin yang membingungkan. Aku mengejarnya. Aku tak ingin sendiri sehingga rasa sepi memilukan memelukku kembali.

Dengan nafas tersengal aku memanggilnya “Tunggu! Aku mohon..”

Sosok bercahaya itu berhenti dan menoleh ke arahku. Wajahnya begitu putih dan bersih. Cahaya yang berpendar darinya begitu menghangatkan jiwa.

“Kau mau kemana?”

“Tempat ini sangat luas. Kau tak bisa membayangkan luasnya. Aku hanya ingin pergi mengitarinya”

“Lalu aku?” Harapan yang tadinya dapat kuraih dan kugenggam seketika menguap dalam dekapanku, menjadi hawa dingin yang menghilang tersapu angin. “Aku betul-betul tak ingin sendiri. Aku mohon jangan pergi. Tinggalah di sini.”

“Aku tak bisa. Kau pun harus pergi”

“Lalu aku harus kemana? Beri aku petunjuk”

“Ada tempat yang bisa kau datangi bersamaku. Jika kau ingin kau bisa tinggal di sana, atau memilih yang lain” ujar makhluk bercahaya itu sebelum menolehkan wajah rupawannya ke sisi yang lain. Aku melihat dua jalan yang saling berseberangan ketika mengikuti arah pandangnya.

“Aku harus kemana?”

“Kau harus memilih jalanmu”

“Aku tak tahu. Kemana jalan itu akan menuntunku?”

“Aku tak bisa memberitahunya. Kau hanya harus memilih”

Berapa kalipun aku mencoba meminta penjelasannya ia tetap tak bergeming. Aku begitu frustasi dengan keputusan yang akan kuambil. Sendiri, sejak dulu aku memang tak menyukainya. Dulu, ya, jelas aku memiliki masa lalu. Lalu kemana masa laluku pergi meninggalkanku? Mengapa tiba-tiba saja aku terperangkap di sini? Tersentak aku merasakan perubahan dalam diriku. Sayup-sayup detak jantungku terdengar lirih. Suaranya terkesan jauh, tapi aku yakin irama bertalu-talu itu adalah jantungku. Aku berbalik ke belakang, memunggungi sosok bercahaya indah itu.

Kegelapan yang sesak ini perlahan berubah. Mataku yang takut menatap kelamnya sekeliling seperti ditutup oleh benda hangat. Seketika itu sosok kecilku jatuh ke retina. Sosok kecilku tengah menatap seorang ibu yang tak kukenali dengan pandangan penuh selidik. Ibu yang marah itu menamparku. Pipiku bagai tersulut api, aku merasakannya. Lalu adegan berganti. Aku berlari setelah turun dari mobil. Aku berteriak karena kesal dan ada sentuhan hangat yang menggapaiku. Itu tangan ibu. Tangan hangat ibu merangkul pundak dan membelai lembut punggungku.

Pemandangan di depanku semakin nyata. Kegelapan tak bernyawa ini mulai luntur dengan semakin tajamnya ingatanku. Aku melihat anak kecil sebayaku sedang asyik bermain di lapangan yang kusinyalir sebagai lapangan sekolah. Warna merah bunga mawar yang mereka petik terlihat begitu jelas. Ibu datang menghampiri dan bertanya mengapa aku tak ikut mereka bermain, lalu kujelaskan padanya bahwa anak-anak itu berbuat keliru dengan memetik bunga-bunga cantik itu. Nasehatku tak diindahkan oleh mereka. Wajah heran ibu yang masih muda membuat rinduku membuncah. Pada kali lainnya, aku menangis sambil memegangi kepalaku. Rasa sakitnya masih bisa kuingat. Aku benci suara-suara yang tak bisa membuatku terlelap. Hanya teriakan pilu yang bisa kusemburkan dari bibir kecilku. Pintu kamarku terbuka dan ibu menghampiri lalu mendekapku dengan erat. Mengatakan tidak apa-apa, berulang kali. Mencium pucuk kepalaku lembut sebelum aku benar-benar jatuh tertidur. Lalu setiap potongan adegan hidupku kembali berganti dan berganti. Dari sosok kecil hingga menjadi aku yang sekarang.

“Ibu..” Jantungku berbedar kencang menyebut namanya. Bulu romaku meremang dalam kehangatan. “Tak pernah lelah kau menyinariku dengan sejuta cinta kasihmu. Bagai malaikat, sungguh kau sangat sabar menghadapi anakmu yang berbeda ini. Ilyas ingin menjadi anak yang kuat demi Ibu”

Bening air mulai menggenang di sudut mataku. Mendesak untuk ditumpahkan. Mengingat ibu dan segala kasih sayangnya sungguh menentramkan jiwa. Entah bagaimana perasaan ibu ketika pertama kali tahu bahwa aku berbeda. Mungkin jauh ketika aku masih balita. Anak pertamanya ini adalah seorang indigo yang sering disalah artikan oleh orang-orang. Dianggap aneh, berjiwa tua, pemberontak, dan cap jelek lainnya. Namun ibu tak pernah menganggap aku musibah dan masalah. Ibu terus ada di sisiku, membelaku mati-matian sembari terus menyunggingkan senyum hangat padaku. Setiap pergolakan batinku ia tanggapi dengan baik semampunya. Ia memposisikan aku sebagai anak yang ia jaga dan rawat selayaknya seorang ibu, tapi tak pernah menganggapku kekanak-kanakan karena jiwaku memang lebih tua dibanding usiaku. Terkadang kami bersitegang. Meski ia tergelincir ketika mengasuh dan membesarkanku, tapi ibu selalu berhasil bangkit untuk menemukan senyum dan tawaku.

Dari matanya dapat kulihat pelangi yang berbinar. Dari matanya kusadar bahwa semua yang ia lakukan yang aku setuju dan tidak setuju adalah karena ia mempedulikanku. Dari matanya aku tahu, aku hadiah menakjubkan yang dititipkan Tuhan padanya untuk dijaga dan dicintai. Aku mencintai cara ibu mencintaiku. Kurindukan ia sampai setiap desahan nafasku bagaikan panggilan penuh cintanya. Dan aku ingin kembali memeluk cinta kasih tak terbatas itu. Bisakah aku? Aku menoleh pada sosok bercahaya itu untuk menemukan jawabannya. Ternyata sejak tadi aku melangkah menjauh darinya.

“Kau harus memilih” katanya singkat di kejauhan, masih sangat jelas di telingaku.

“Aku ingin kembali pada ibuku. Ingin bertemu keluargaku. Bolehkah?” pintaku.
Sosok indah itu mengangguk pelan. “Kau telah memilih. Pergilah. Dan lanjutkan hidupmu bersama penjaga yang diutus Tuhan untukmu”

Belum sempat aku mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik memunggungiku dan berjalan menjauh. Di hadapannya tak lagi terhampar dua jalan bersinggungan. Hanya jalan gelap seluas samudera. Semakin sosok bercahaya putih itu melangkah meninggalkanku, semakin pudar pemandangan di depanku. Aku bagai melayang dan hanya bisa pasrah dengan mata terpejam. Di saat yang sama bisikan dan suara-suara terdengar lagi. Tak beraturan hingga sangat memusingkanku. Aku tak bergeming dari posisiku bagaimanapun bisingnya suara-suara dalam kepalaku. Tubuhku begitu letih. Aku rindu ibu. Aku ingin menatap wajah ibu. Aku ingin bersamanya. Terlalu rindu aku akan kehadirannya sampai suaranya pun bercampur dengan suara bising ini. Kucoba berkonsentrasi pada suara ibu yang terdengar jauh, demi mengobati rasa rinduku.

“Ilyas..” Ibu yang terkasih menyebut namaku lagi. Lebih jelas dari sebelumnya.


***



“..Iya, Dok. Tadi anak kami mengigau..” suara familiar ayah terdengar dari luar pintu kamar. Memecah kepingan ingatanku. Tak berapa lama ayah dan dokter berjas putih serta suster dengan peralatan medisnya sudah menghambur masuk. Mereka menggapaiku. Sementara dokter dan suster bertanya beberapa hal pada ibuku, kulihat dahi ayah berkerut cemas saat menatap dokter dan aku bergantian. Melihat aku tersenyum, terpancar rona bahagia di wajahnya yang tak semuda saat aku masih kecil dulu.

Ayahlah yang selalu membesarkan hati ibu dikala penjagaan akan diriku begitu berat ditanggung ibu. Jatuh bangun bersama. Di saat ayah memarahiku karena sikapku yang berlebihan, ibu mengingatkan. Setelah ayah paham, dipeluknyalah aku dengan sayang. Semakin usiaku bertambah dan jiwaku makin menua, kusadari pengorbanan orang tuaku yang begitu besar. Aku bersyukur adikku, Farhunnisa, terlahir normal tanpa kemampuan-kemampuan aneh seperti yang kumiliki. Ia tak perlu menanggung beban seperti yang kurasakan di masa kecilku bahkan hingga sekarang. Ia tak perlu dijauhi teman-teman sebayanya. Ia tak perlu merasa berbeda di lingkungannya. Namun perhatian adikku pada kakaknya ini tak kalah besarnya. Ia mengerti akan kondisiku dan kondisi orang tuaku yang harus memperlakukan kami secara berbeda.

Aku ingin kuat lebih dari yang sekarang. Aku memiliki tanggung jawab yang tak kalah besarnya, karena kemampuanku yang juga lebih ini. Oh..Tuhan, begitu besar cinta yang kau berikan padaku dengan tanggung jawab yang kuemban ini. Kau menganugrahiku keluarga yang begitu hebat. Terima kasih.

“Mengapa kau menangis, Nak?” tanya Ibu membuyarkan lamunanku.

“Aku bersyukur bertemu malaikat..” sedu sedanku. Lalu aku mendapati bungkusan lukisanku bersandar di atas kursi tamu. Aku mengingat hadiah khusus itu. Syukurlah lukisannya tidak hilang.

“Kak, jangan bicara yang tidak-tidak lagi. Kau harus istirahat banyak biar luka di kepalamu cepat sembuh dan biar kau bisa cepat pulih.” Hanya senyum yang kuberi sebagai balasannya.

“Bagaimana perasaanmu? Bagian mana yang sakit?” tanya dokter padaku.

“Kepalaku perih..”

“Aku akan menyuntikkan obat agar rasa sakit di kepalamu berkurang.” Kata dokter berwajah tegas itu. “Obat ini akan membuatmu tertidur pulas beberapa jam kedepan”

“Sebelum itu aku ingin menyerahkan hadiahku. Nisa, tolong ambil lukisanku di sana”

Tanpa berlama-lama, Nisa mengambil dan membawa lukisan berukuran besar yang masih terbungkus kertas copy itu. Aku meminta ibu membukanya. Alangkah senang dan terharunya ibu saat melihat wajahnya tercetak anggun di kanvasku. Ibu membelai lembut pipiku.

“Selamat ulang tahun, Ibu. Lukisan ini mungkin tak seberapa. Lukisan ini belum mampu membalas semua pengorbananmu padaku. Namun, dengan hati penuh harap aku menggoreskan kuasku agar dapat melihat pelangi di matamu, Bu. Semoga Ibu sudi menerima pemberian tak seberapa ini. Maafkan Ilyas yang terlambat menyerahkannya. Maafkan segala kekurangan Ilyas sebagai anakmu, Ibu. Semoga Ibu senantiasa berada dalam lindungan dan kasih sayang-Nya ketika penjagaanku tak lagi cukup. Semoga aku bisa membahagiakan Ibu dan seluruh keluargaku. Semoga Tuhan mengabulkan-Nya” ucapku sambil menguatkan hati. Berjanji pada diri sendiri.

“Oh Ilyas..Inikah yang menjadi alasan kau tak pernah pulang selama beberapa hari, Nak? Kau bersusah payah demi Ibu?”

Ibu tak butuh jawaban dan mengucapkan terima kasih yang tidak pantas kuterima sambil memelukku dengan hati-hati. Aku tak melihat dokter menyuntikkan obatnya lewat selang infusku, tiba-tiba saja aku merasakan kantuk yang teramat sangat. Sebelum kesadaranku lenyap, aku menyampaikan sesuatu pada Ibu.

“Aku telah bertemu malaikat. Dan aku sangat bersyukur karenanya”

“Oh ya?” Ibu tersenyum sayang padaku. “Bagaimana rupanya?” tanyanya sambil tetap membelai lembut kepalaku yang tidak diperban.

“Sangat indah. Bersinar. Parasnya sangat me..nawan” Aku mulai kepayahan membendung rasa kantukku.

“Siapa namanya?”

Alam mimpi merayu hendak meruntuhkan kesadaranku agar ia bisa bersatu denganku. Kecupan Ibu di kening hangat ini mengantarku memasuki mimpi indah beraroma surga, setelah dengan sisa tenaga aku menjawab, “Malaikat itu bernama...Ibu...”



SELESAI

***


*didedikasikan kepada semua anak dan malaikat yang mengantarnya ke dunia...

Makassar, Desember 2008 ^^
Revisi 1 : 13 September 2010, ketika fajar Kota Anging Mammiri mengintip diperaduannya. [lebay!!]
Revisi 2 : Minggu,19 September 2010, kala hujan menari untukku. [sotta'!!]

PS : gambar pada akhir cerpen ini kucuri dari sini.


=========================

Capek bacanya?hahahaa
Bagaimana pendapat kalian? <-- sok dibaca orang banyak..XD XD XD Aku posting cerita ini untuk berjaga-jaga jika data2 cerpenku kemasukan virus lagi!! T__T Cerpen Ritme Musim Gugurku saja udah gak ada aslinya di komputer. Untuuung dulu udah kuposting diblog ini..hikzzz

Semoga aku bisa terus berkarya, semakin hari..semakin baik..Aamiin ^_^
Jya ne..Wassalam,,,

luv,
emma*yangmaunuliscerpenbuatbapaktercinta

4 comments:

  1. ummiyyy ...9:07 PM

    save page dulu ah ...
    :))

    dongeng sbelum tidur deh ntar..

    hehhehe XD

    ReplyDelete
  2. @Ummy : silahkan..hehe. maap kalo ceritanya sederhana. saya masih belajar sih..^_^

    ReplyDelete
  3. jujur ma (kayak panggil mama), cerpenmu yg ini lebih keren dari yg tahun lalu...

    ReplyDelete
  4. @Imran : makasih,kawan..^^ tp tetap harus belajar lebih banyak lagi. sapatahu besok2 bisa lampaui sang maestro, si Imran Makmur! (kayak susah..hehee ;D)

    ReplyDelete

say what u need to say.. ^_^