Friday, April 29, 2011

Fiksimini: Bunga Palestina Untuk Tentara Amerika

Assalamu'alaikum. Apa kabar? Lama juga gak nulis lagi..hehe :)
Ada sebuah kisah yang tiba-tiba terlintas di pikiranku malam itu...Akan kuceritakan.. :)
***

Bunga Palestina Untuk Tentara Amerika

Sudah 2 bulan aku berada di tanah Palestina. Tanah yang penuh konflik. Tanah yang menjadi rebutan. Tanah yang katanya diperuntukkan untuk bangsa Israel, namun kekeraskepalaan rakyat Palestina menghalangi keinginan mereka.Aku bukan Yahudi. Aku bukan orang Islam. Aku tak mengenal mereka semua. Di sini, aku hanya menjalankan tugasku, sebagai seorang tentara dari Amerika sekutu negara Israel. Aku tak pernah ingin memikirkan hal lain, sebelum akhirnya aku bertemu dengan gadis kecil itu...

Siang itu mentari sangat terik. Aku berjaga di suatu daerah seorang diri. Saat itu posisi teman satu timku agak jauh dariku. Saat tengah duduk sendiri, dikejauhan aku melihat seorang gadis kecil yang memakai kain berwarna biru muda, untuk menutup kepala dan rambutnya, berjalan mendekatiku. Langsung saja aku bangkit. Serta merta kuarahkan moncong senjataku kepadanya. Berharap dia berlari menjauh dan tak mengusikku, seperti bocah-bocah yang pernah ditembak mati oleh rekanku tak jauh dari tempatku berdiri dari mereka saat itu. Namun, ia masih berjalan mendekat ke arahku. Aku semakin mengencangkan peganganku pada senapan. Kutarik pelatuknya tanpa memberinya peringatan. Aku tak ingin diterjang batu olehnya. Batu-batu yang mampu membutakan mata 2 orang rekanku seminggu yang lalu.


Aku heran...
Bukannya menjauh, ia malah semakin mendekat...
Apa ia tak takut padaku? Tak ada bocah kecil yang bisa sedekat ini dengan kami sebelumnya. Di bawah terik ia tetap menyeret kaki kecilnya yang tanpa alas.Ketika ujung senjataku telah berada beberapa senti dari tengkoraknya, ia mengulurkan tangan kecilnya ke arahku.

Entah perasaan apa yang menggelayuti hatiku detik itu.
Gadis kecil itu memberikan sekuntum bunga...

Mataku tak salah. Tanpa sedikitpun rona khawatir dan takut, ia memberiku bunga kecil berwarna putih sambil tersenyum.
Kulepaskan jariku dari pelatuk. Kukendorkan telunjukku dari pemicu. Kujauhkan senjataku perlahan darinya.

Ia mulai menggumamkan sesuatu yang tak kumengerti. Kalimat itu ia ulang berkali-kali berharap agar aku mengerti, sampai aku bahkan bisa mengingat kalimatnya.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, segera saja kuterima bunga itu dan mengisyaratkan padanya agar segera pergi dan menjauh dariku. Bahkan aku bisa mengatakan padanya untuk berhati-hati dalam perjalanan pulangnya. Gadis itu datang dan pergi dengan senyuman. Aku masih mengerutkan alisku karena heran ketika ia menghilang di tikungan.

Waktu berjalan. Hidup terus berjalan.

Tahukah kau?
Entah perasaan apa yang kurasakan kini...di hari ini.

Sekuat tenaga aku tak ingin orang lain tahu ada genangan bening di mataku.
Dalam reruntuhan bangunan sederhana ini kutemukan kain penutup kepala yang mirip dengan milik si gadis kecil tempo hari. Kain biru muda itu bersih dan harum, bahkan bukan hanya kainnya. Seluruh reruntuhan itu berbau harum padahal ada genangan darah dimana-mana.
Tadi malam seorang rekan senior telah memberitahuku apa yang dikatakan gadis kecil itu padaku. Dan aku memilih keluar ruangan setelah menemukan halaman kecil dari balik kaca jendela yang pecah. Taman syurga yang tak luas namun penuh bunga kecil putih...

"kakak laki-lakiku khatam Qur'an tadi malam. Aku ingin membagi suka cita dengan semua yang kutemui hari ini. Ini aku petik dari halaman rumahku. Ambil ini. Terimalah..", ujarnya saat senyum pertama dan terakhirnya ia berikan padaku hari itu.


Selama ini mataku selalu melihat apa yang kupikir hanya ada di negeri ini, perang..perang..dan perang yang berujung kematian. Ketika mata ini dihadapkan pada kenyataan lain, ia tak kuasa. Air bening ini mendesak untuk tertumpah. Mereka selalu bilang, aku menjalankan tugasku dengan baik, menjaga perdamaian, mengamankan keadaan. Mereka salah. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan seorang bocah kecil...

Mereka mungkin belum tahu akan hal ini, namun aku tahu aku tak bisa menyangkalnya.
Akan kukatakan pada dunia, di sini aku dapat melihat cinta.
Ya, aku telah melihat cinta dari seorang bocah Palestina...




*by Rahmah, yang merindukan spirit seorang bocah Palestina.
Inspired by: "sebuah foto pemberian teman"
Don't forget to always pray for our brothers and sisters in the world..
PALESTINE WILL BE FREE. AMEEN

@Makassar; Rabu, 27 April 2011, 01:11 AM WITA.

***

Wassalamu'alaikum..
Alhamdulillah. :)

No comments:

Post a Comment

say what u need to say.. ^_^