Thursday, March 28, 2013

Cerpenku: "Debu Perjuangan Ksatria Ramallah"

Cerpen bernuansa konflik di Palestina? :o tak ngerti juga aku. Tiba2 saja ingin menulisnya. jadi bagi penyuka kisah cinta, maaf..karya ini mungkin akan mengecewakan T_T. Tahu dimana posisi Ramallah? Ramallah itu nama salah satu kota di Palestina. Judul yg ini pernah kuikutsertakan di LMCR, tapi yg ini gak dapat juara..hehee. entah tulisanku ada penurunan apa gimana. mesti berjuang dan belajar lagi nih..hehe
Dulu aku sempat nulis note sederhana berjudul "Bunga Palestina untuk tentara Amerika", dan ada teman yg minta dilanjut jadi novel. karena merasa belum sanggup, jd kucoba buat jadi cerpen saja. Dan inilah dia, dengan judul yang telah berubah! ^_^

===========
Debu Perjuangan Ksatria Ramallah
Oleh : yang punya blog, rahmah ^^


Sudah dua bulan aku berada di tanah Palestina. Tanah yang penuh konflik. Tanah yang menjadi rebutan. Tanah yang katanya diperuntukkan untuk bangsa Israel, namun kekeraskepalaan bangsa Palestina menghalangi keinginan mereka.

Aku bukan orang berdarah Yahudi. Aku pun bukan orang Islam. Aku tak mengenal mereka semua. Di sini, aku hanya menjalankan tugasku, sebagai seorang tentara dari Amerika sekutu negara Israel. Aku tak pernah ingin memikirkan hal lain, sebelum akhirnya aku bertemu dengan gadis kecil itu…

***

“Jihad..Jihad..!”

 Seorang bocah laki-laki berkaos lusuh bangkit dari dudukannya di atas kasur tipis di dalam kamarnya, dan berlari tergopoh-gopoh tanpa alas kaki ke arah suara yang memanggil namanya. Langkah kaki kecilnya menjejaki lantai batu rumahnya yang sederhana. Dengan senyum yang mengembang ia menghentikan langkah setelah muncul dari balik dinding.

“Iya, Abi..” sambut bocah beralis tebal itu pelan, menjawab panggilan sebelumnya. Kepalanya tertunduk sedikit untuk menyembunyikan senyumnya yang nampak timbul tenggelam.

Seorang pria bertubuh tinggi tegap memberi salam kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan mendekat ke arah bocah yang dipanggil Jihad itu. Jihad menjawab salamnya. Pria yang adalah ayahnya itu berlutut merendahkan diri agar menyamai tinggi badan sang bocah. “Alhamdulillah.. Selamat anakku, Jihad. Kau telah mengkhatamkan hafalan Qur’anmu”, ucap ayah Jihad, Abu Umar, sembari mengelus rambut hitam legam anaknya dengan pandangan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Abi. Alhamdulillah..” jawab Jihad.

Barakallah, nak..Lanjutkanlah perjuangan membela aqidah dan tanahmu di luar sana. Jangan pernah gentar, jangan pernah mundur, jangan pernah takut. Allah selalu bersama kita..InshaAllah

Si kecil Jihad mengangguk pasti. “InshaAllah, Abi..Aamiin” Lalu kemudian ia terdiam dan lengkungan senyum menghilang dari bibirnya. “Maafkan aku, Abi. Aku terlalu lama menyelesaikan hafalanku. Seharusnya sejak beberapa tahun lalu aku telah hafidz. Maafkan aku, Abi..

Abu Umar mengelus pipi bocah tampan itu dengan lembut. Ia mencium kening Jihad dan mengecup mata kiri anaknya yang buta akibat hujaman peluru tentara Israel yang membabi buta di pasar Ramallah beberapa tahun silam. Kejadian yang telah merenggut nyawa anak kembarnya, Khalid dan Salman, yang kehabisan darah setelah diberondong peluru saat melakukan perlawanan untuk menolong kaum ibu yang dipukuli tentara bejat itu, dan salah satu peluru itu mengenai mata kiri adik Khalid dan Salman, yakni Jihad. Tragedi yang membawa kakak-kakak Jihad kepada kesyahidan.

“Tidak, Nak, justru kami bangga padamu. Tanpa fasilitas mewah, tanpa sebuah kenyamanan yang pasti, dan hari-hari yang selalu dipenuhi dentum bom, ditemani intaian penembak jitu yang mungkin menjadi magnet kekhawatiranmu ketika berjalan di luar, desing peluru yang mungkin telah berubah menjadi nyanyian di telingamu, rasa cemas kehilangan keluargamu namun mampu memberimu kekuatan, peristiwa yang membuat mata titipan Allah ini telah lebih dulu kembali ke Syurga untuk menanti kedatanganmu secara utuh, engkau Jihad, masih bisa menghafal dan mempelajari isi Qur’anmu.”

Abu Umar mengencangkan genggaman pada bahu bocah kecilnya. Menyalurkan tenaga, kekuatan dan harapan kepada jiwa besar yang berdiam dalam sosok bertubuh mungil itu. “Kau selalu berjuang dengan segala keterbatasanmu. Begitulah seharusnya calon-calon syuhada! Wujudkanlah hafalanmu di atas medan perang, anakku! Berjihadlah, sesuai nama pemberian ibumu! Berjihadlah di jalan Allah semata-mata untuk mengharapkan ridha atas Jannah­­-Nya! Jika kita terpisah di dunia, yakinlah kita akan berkumpul kembali di Syurga. Janji Allah itu pasti. Berjuanglah, wahai anakku! Jangan pernah gentar!”

“Itu cita-citaku, Abi. Aku mungkin masih lemah, karena itu aku akan berusaha menjadi kuat, sekuat para mujahid yang lebih dulu menjemput kesyahidan mereka, seperti saudara-saudaraku yang gagah berani. Aku adalah debu, yang terlihat lemah bagi yang lain akan tetapi selalu ada, dimanapun, di atas bumi Allah. Debu yang mampu membutakan mata musuh-musuh kaum Muslimin. Aku mohon restumu untuk kubaktikan diriku di jalan-Nya, Abi...”

“Restuku akan selalu menaungi langkahmu, anakku. InshaAllah”. Kalimat yang membuat Jihad memeluk ayahnya. Abu Umar pun membalas pelukan anaknya dengan erat. Pria itu menepuk punggung Jihad sebelum melepaskan pelukannya.

Abu Umar yang berwajah teduh itu bangkit dan melihat sekeliling rumah setelah menyeka titik-titik bening di sudut matanya. “Kita tak bisa merayakan apa-apa untuk khatammu, Nak, tapi aku punya sesuatu untukmu. Bukan barang yang mewah, tapi semoga kau suka. Ada setelan baju untukmu.” Sejurus kalimat yang membangkitkan semangat Jihad. “Untuk adikmu juga ada. Dimana Najma adikmu?” tanya Abu Umar kemudian.

Jihad memiringkan kepalanya. “Sejak aku pulang setelah menyetor hafalan terakhirku pada mursyid dan mengabarkan kelulusanku, Najma segera keluar dari rumah,” terang Jihad.

“Sendirian? Apa yang ia lakukan di luar sana?” tanya Abu Umar cemas.


“Entahlah. Mungkin menyusul Ummi yang masih berada di pasar Ramallah, Abi” jawab Jihad sambil mengerutkan kening, memutar bola mata mencoba mengingat sesuatu. “Najma memetik banyak sekali bunga di taman belakang sebelum pergi..”

***

Siang itu mentari sangat terik. Aku berjaga di salah satu sudut kota Ramallah seorang diri. Saat itu posisi teman satu timku agak jauh dariku. Ketika tengah duduk sendiri, dikejauhan aku melihat seorang gadis kecil yang memakai kain berwarna biru muda, untuk menutupi kepala dan rambutnya, berjalan mendekatiku.

Langsung saja aku bangkit. Serta merta kuarahkan moncong senjataku kepadanya. Berharap dia berlari menjauh dan tak mengusikku, seperti bocah-bocah yang pernah ditembak mati oleh rekanku, seorang tentara Israel, tak jauh dari tempatku berdiri saat itu. Namun, ia masih berjalan mendekat ke arahku. Aku semakin mengencangkan peganganku pada senapan. Kutarik pelatuknya tanpa memberinya peringatan. Aku tak ingin diterjang batu olehnya. Batu-batu yang mampu membutakan mata dua orang rekanku seminggu yang lalu.

Aku heran...Bukannya menjauh, ia malah semakin mendekat...

Apa ia tak takut kepadaku? Tak ada bocah kecil yang bisa sedekat ini dengan kami sebelumnya. Di bawah terik mentari ia tetap menyeret kaki kecilnya yang tanpa alas. Ketika ujung senjataku telah berada beberapa senti dari tengkoraknya, ia mengulurkan tangan kecilnya ke arahku.

Entah perasaan apa yang menggelayuti hatiku detik itu. Bocah kecil itu memberiku sekuntum bunga. Mataku tak salah. Tanpa sedikitpun rona khawatir dan takut, ia memberiku bunga kecil berwarna putih sambil tersenyum. Kulepaskan jariku dari pelatuk, kukendorkan telunjukku dari pemicu. Kujauhkan senjataku perlahan darinya. Ia mulai menggumamkan sesuatu yang tak kumengerti. Kalimat itu ia ulang berkali-kali berharap agar aku mengerti, sampai aku bahkan bisa mengingat kalimatnya.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, segera saja kuterima bunga itu dan mengisyaratkan padanya agar segera pergi dan menjauh dariku. Bahkan aku bisa mengatakan padanya untuk berhati-hati dalam perjalanan pulangnya. Sungguh aneh. Gadis kecil itu datang dan pergi dengan senyuman. Aku masih mengerutkan alisku karena heran ketika ia menghilang di tikungan...

***

Jihad berjalan di bawah teriknya matahari. Peluh membasahi kaos lusuhnya yang mulai terlihat sempit. Alas kakinya yang terkikis membuat telapak kakinya terasa sedikit sakit oleh jalan yang penuh batu dan kerikil tajam. Ia diminta Abu Umar, ayahnya, untuk menjemput ibu dan adiknya, Najma, yang mungkin berada di pasar Ramallah sesuai dugaan Jihad. Tak berapa lama bayangan adiknya, Najma, terpantul di retina Jihad. Bocah 10 tahun itu bergegas menyeret kakinya menuju tempat Najma mematung.

Dengan nafas tersengal-sengal ia memperhatikan adiknya dengan cermat. “Untunglah tak terjadi apa-apa denganmu, Najma. Dari mana saja kau? Abi menyuruhku mencarimu. Aku pikir kau bersama Ummi di pasar, tapi kau tak di sana. Ummi mencarimu ke sekolah karena mungkin kau bermain lagi di sana,” ujar Jihad sambil memegang pundak adik perempuannya yang menatapnya tenang tanpa beban.

“Aku pergi untuk membagikan bunga kepada tetangga kita,” jawab Najma begitu polos.

Jihad mengerutkan keningnya. “Untuk apa kau lakukan itu, adikku?”

“Agar mereka tahu bahwa kakakku telah menjadi seorang hafidz dan bersiap jihad bersama mujahidin yang lain.” Wajah Najma berubah cerah saat mengucapkannya. Mata berwarna hijau zamrud yang terbingkai indah di bawah alis tebalnya yang rapi nampak berbinar.

MashaAllah..kau tak perlu melakukan itu, adikku. Seharusnya kau tak pergi sejauh ini. Bagaimana jika ada tentara Israel yang menemukanmu? Mereka sangat kejam, kau tahu itu! Mereka yang menembaki adik bungsu kita, Hasan, setelah Hasan memecahkan mata mereka minggu lalu!”

“Tapi...aku bertemu tentara di sana. Ia menerima bunga dariku”. Keterangan Najma yang lugu membuat bocah laki-laki itu terperanjat.

“Apa ia melukaimu atau mengganggumu? Jika iya, maka aku akan pergi ke tempat orang itu sekarang juga!”

“Tidak, kakakku Jihad. Tidak sedikitpun ia menyentuhku apalagi melukaiku. Jangan nodai hari indahmu. Sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Najma sambil menarik-narik tangan kakak laki-laki yang 2 tahun lebih tua darinya.

Jihad menunduk memandang kaki kecil adiknya yang tanpa alas. Kulit mulus Najma nampak memerah. “Mana alas kakimu, Najma?” tanyanya.

“Tadi karena begitu bersemangat, aku lupa mengenakannya.” Najma tersenyum malu.

“Kemarilah.” Jihad menarik tangan adiknya. “Naiklah ke punggungku. Kita pulang”

Dua bocah Palestina itu saling berbagi canda dan tawa dalam perjalanan pulang mereka. Kekacauan dan suara rongrongan peluru adalah hal yang telah mereka kecap sejak mereka masih sangat kecil. Bau mesiu, aroma anyir darah sudah tak membuat mereka mual. Tragedi demi tragedi membuat mereka semakin tahu betapa kejam dan sadis tentara Israel yang hendak menguasai dan menduduki tanah mereka.

Syahidnya kedua kakak kembar mereka, Khalid dan Salman di usia yang masih sangat muda, sama seperti usia Jihad kini. Syahidnya adik bungsu mereka seminggu yang lalu oleh timah panas yang menembus tubuh mungilnya beserta teman-temannya yang lain. Terlukanya tangan ibu mereka di hari yang sama dengan syahidnya Khalid dan Salman. Dan kenyataan lain kehilangan mata kiri Jihad yang juga terjadi pada peristiwa yang sama. Tanpa ampun, tanpa peringatan, tanpa belas kasihan tentara keji itu berusaha mencabik-cabik jiwa masyarakat Ramallah, separuh jantung bangsa Palestina. Tak peduli tua atau muda, perempuan atau laki-laki semua akan dibasmi layaknya serangga pengganggu di musim panas.

Malam di hari yang sama, tentara-tentara berotak udang itu kembali menyisir rumah masyarakat. Mencari sesuatu yang sebenarnya tak ada, yang tentu hanya digunakan sebagai alasan belaka. Abu Umar dan Syifa, istrinya, tidak meninggalkan rumah mereka. Mereka berkumpul bersama anak-anak mereka di dalam rumah. Bersiap melakukan perlawanan untuk sesuatu yang mereka pertahankan. Suara desing peluru mulai terdengar kembali dari arah luar rumah. Semakin lama semakin jelas dan semakin dekat. Terdengar bagai alunan simphoni kematian yang terbawa angin. Mewangi semerbak, seolah pintu Syurga dibuka perlahan tepat di depan mereka.

***

Waktu berlalu. Hidup terus berjalan.

Tahukah kau?

Entah perasaan apa yang memenuhi relung hatiku kini, di hari ini. Sekuat tenaga aku tak ingin orang lain tahu berdiam genangan bening di mataku.

Dalam reruntuhan bangunan sederhana ini kutemukan kain penutup kepala yang mirip dengan kain milik si gadis kecil beberapa hari yang lalu. Kain biru muda itu bersih dan harum, bahkan bukan hanya kainnya, melainkan seluruh reruntuhan itu berbau harum padahal ada bekas-bekas genangan darah dimana-mana. Anyir darah bahkan tak tercium sedikitpun.

Tadi malam seorang rekan senior telah memberitahuku apa yang dikatakan gadis kecil itu padaku. Dan aku memilih keluar ruangan setelah menemukan halaman kecil dari balik kaca jendela yang pecah. Taman syurga yang tak luas namun penuh bunga kecil putih. Nampak suci...

Kakak laki-lakiku khatam dan telah menyelesaikan hafalan Qur’annya. Aku ingin membagi suka cita dengan semua orang yang kutemui hari ini. Ini aku petik dari halaman rumahku. Ambil ini. Terimalah..,” ujarnya saat senyum pertama dan terakhirnya ia berikan padaku hari itu.

Selama ini mataku selalu melihat apa yang kupikir hanya ada di negeri ini, perang..perang..dan perang yang berujung kematian. Ketika mata ini dihadapkan pada kenyataan yang lain, ia tak kuasa. Kristal bening ini mendesak untuk tertumpah. Mereka selalu bilang, aku menjalankan tugas dengan baik, menjaga perdamaian, mengamankan keadaan. Mereka salah. Aku bahkan tidak sanggup menyelamatkan seorang bocah kecil tak berdosa...

Mereka yang berada di luar sana, jauh di luar Palestina, mungkin belum tahu akan hal ini. Namun, aku tahu aku tak bisa menyangkalnya. Akan kukatakan pada dunia, di sini aku dapat melihat cinta.

Ya, aku telah melihat cinta dari seorang bocah Palestina. Aku melihat debu perjuangan ksatria Ramallah...

DOOOORR!!

“Aaaaahhhkkk!!” Aku jatuh tersungkur. Timah panas baru saja didaratkan di paha kananku. Aku tak mengerti apa yang tengah terjadi. Semua terjadi begitu cepat.

“Terima itu, pengkhianat! Matilah kau!” Sumpah serapah dimuntahkan oleh salah satu tentara Israel yang ikut berpatroli bersamaku. Tentara itulah yang menembakku tanpa menjelaskan alasannya. Keparat!

“Apa maksudmu, hah?!” Dengan kepayahan aku berusaha bangkit. Namun makhluk bengis ini kembali menendang dadaku. Sejenak kurasakan tak ada udara yang bisa kuhirup. Aku meringis lalu terbatuk-batuk. Darah masih membanjir dari pahaku.

“Hey, Benjamin, mengapa kau melakukan ini?” tanya tentara yang lain yang heran sekaligus tak percaya. Mereka saling bertukar pandang.   

“Aku telah melihatnya beberapa hari yang lalu bersama seorang bocah Palestina. Dia baru dua bulan lebih bersama kita, tapi kelakuannya sudah macam-macam. Dia ini pasti mata-mata!” teriak tentara Israel dungu itu.

“Apa maksudmu, Ben? Mata-mata apa??”

Benjamin tidak mempedulikan pertanyaan rekan-rekannya, ia menjatuhkan pandangan sinisnya kepadaku yang tersungkur di bawahnya. “Bocah perempuan yang menghampirimu memberimu sesuatu. Katakan apa itu! Apa itu surat? Kau mau menjadi mata-mata, hah?!” tuduhnya membabi buta.

Berusaha kubela diriku, dengan rasa sakit yang membakar pahaku. “Bajingan kau! Anak itu hanya memberi bunga dan aku bukan mata-mata seperti yang kau tuduhkan!!”

Benjamin tertawa. Memamerkan sederet giginya yang tidak rata. “Pembohong! Jangan membuat kami tertawa dengan alasan bunga, pengkhianat! Kau pasti senang bukan, sudah berkunjung ke sini? Kau tahu ini adalah rumah bocah-bocah itu! Bocah itu dan ayahnya sudah mati, kau tahu? Aku sendiri yang menembakinya. Kakak dan ibunya berhasil lolos. Sekarang beritahu kami dimana kau menyembunyikan mereka!”

Aku geram mendengarnya, “Binatang kau!!! Membusuklah kau di Neraka, iblis terkutuk!!!”

DOOOORR!! DOOOORR!!

“Ben!! Hentikan!! Ada apa denganmu??” teriak yang lain.

Dua peluru kembali menembus paha kiriku. Aku mencoba mengangkat senjataku, namun Benjamin dengan cepat menginjak tanganku. Sepatu bootnya meremukkan tulangku. Entah remuk atau tidak, aku sudah tidak bisa merasakannya. Dengan banyaknya darah yang mengalir, aku mulai kepayahan mengendalikan kesadaranku.

Nafasku mulai tersengal-sengal. Pandanganku mulai kabur, hanya seperti melihat bayangan. Namun, wangi reruntuhan ini masih dapat kucium. Aku tersenyum membayangkan dimana sekarang bocah kecil itu berada. Entah mengapa, hati kecilku berharap saudaranya selamat dan menjadi ksatria pemberani yang mampu meluluhlantakkan tentara keji seperti Benjamin. Hidup untuk mengabarkan pada dunia tentang sebuah perjuangan yang takkan pernah habis, bagai debu...

DOOOORR!!

***THE END***

=============

Alhamdulillah.. bagaimana? sudah baca? :)
semoga memberi pencerahan.. (halaaah) hehe

salam hangat,
Rahmah/Emma

No comments:

Post a Comment

say what u need to say.. ^_^