Monday, June 17, 2013

letak masa depan.. :)

Assalamu'alaikum. :)

Pernah kutuliskan ini..
"Masa depanku yang luar biasa indah bukanlah melulu dalam genggaman titel kesarjanaan, dokter, pengacara, apapun yang dunia agung-agungkan..
Masa depanku berada di tangan ALLAH, melalui perantara genggaman ia yang SHALIH. pasti. in syaa Allah."

kemudian seseorang berkata seperti ini..
Tapi tetap juga tuh harus sarjana. Kalau memang seperti itu pemikirannya, kenapa kuliah coba?

Hmmm... ^_^
Aku bilang kan "tidak melulu" titel-titel seperti itu yg menjamin masa depan seseorang cerah. Apalagi bagi mereka yang bermasa bodoh dengan kehidupan akhiratnya. Jadi, boleh Iya, boleh Tidak, karena "tidak melulu".
Ada yang mempertanyakan 'mengapa kuliah?'
Hei, kawan.. wanita yang memahami banyak ilmu untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya adalah lebih baik daripada yang tak tahu ilmu sama sekali. Tak ada yang salah dengan sekolah dan kuliah, itu baik, ilmu itu rejeki, dan menuntut ilmu itu wajib. Namun ingatlah, menuntut ilmu tidaklah harus mendapat gelar 'sarjana'.
Ada banyak juga kok orang miskin/kurang mampu yang tidak mengenyam bangku kuliah (tidak bertitel sarjana), atau penulis-penulis sukses yang tidak selesai pendidikannya karena kendala kesehatan, akan tetapi belajar dengan banyak cara, sehingga menjadi sosok yang lebih bermanfaat untuk orang banyak..^^ dibanding mereka yang bergelar sarjana tapi tak menghasilkan apa-apa..
Sarjana tidak sarjana, hanya kulit.
Isinya dilihat dari seberapa dia bermanfaat untuk umat dalam hal positif. ^^

Ya.
Tidak melulu yang artinya, gelar kesarjanaan boleh 'capek-capek' diraih (Ooopss..utamakan ilmu dibalik gelar itu pastinya!), karena ilmu dibaliknya adalah modal. Modal untuk pria dan wanita, sama. Tidak melulu yang artinya, boleh-boleh saja gelar dan profesi-profesi prestisius itu mendatangkan kebahagiaan, boleh juga tidak sama sekali. Tidak melulu yang artinya, seseorang yang tak memiliki gelar yang 'mewah' pun bisa memberikan masa depan indah dan bahagia, jika ia SHALIH (berpotensi shalih dengan segala usahanya mendekatkan diri pada Rabb-nya), itulah kekayaan yang tiada tandingannya. Prestisius dalam pandangan-Nya, jauh mengalahkan gelar-gelar dunia. :)

Menuntut ilmu, itu suatu kewajiban. Apalagi ilmu agama. Prioritas, karena itu jembatan menuju akhirat yang selamat. Tak ada yang salah dengan orang-orang yang mau belajar, justru bagus. Alhamdulillah juga jika ilmu yang diraih bisa diamalkan untuk kemaslahatan umat. Ilmu itu bisa diamalkan dengan baik dan benar, tidak menyimpang. Ilmu itu bisa menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada ridha Sang Pencipta. Subhanallah. Sayangnya, tidak semua bisa selurus itu. Ada juga golongan orang-orang yang diberil ilmu, diberi materi berlebih pula, tapi abnormal perilakunya, hancur akhlaknya. Ini yang patut diwaspadai. Sebagai wanita yang menjadi makmum, mesti berpikir baik-baik untuk memilih imam yang tak lurus seperti itu. Mungkin dengan uangnya, wanita bisa bersenang-senang, tapi fatamorgana, tak sejati bahagia itu. Masa depan yang terbentang hanya seumur jagung indahnya. 

Berapa banyak sih orang-orang pintar bertitel di luar sana yang ternyata menjarah uang rakyat untuk dinikmatinya sendiri, dengan entengnya memberi makan anak dan istrinya dengan hal yang haram? Berapa banyak sih orang-orang pintar bertitel di luar sana yang ternyata moralnya anjlok seanjlok-anjloknya? Bisa memiliki begitu banyak wanita simpanan, menikahi gadis-gadis lalu menceraikannya dengan gampang, atau mereka yang mudah sekali berlaku kasar kepada wanita padahal mereka orang-orang "berilmu"?

Orang-orang yang shalih takkan mau melakukan hal-hal seperti itu. Sekalipun tidak mewah, tapi harta yang ia bawa pulang adalah harta halal. Makanan yang ia berikan untuk anak dan istrinya pun halal, kehalalan yang berdampak baik bagi anak dan istrinya. Sekalipun tak mudah, ia akan berusaha bekerja menafkahi keluarga. Ia tahu tanggungjawabnya. Belum lagi pribadinya yang berusaha menjaga pandangan dari yang tak halal baginya, matanya terjaga, tak jelalatan ke sana ke mari..Astaghfirullah. Bagaimana ia berusaha keras menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Duh, kalau mau dijabarkan seperti apa sosok yang shalih itu, bisa berapa ratus meter ke bawah ya panjangnya? ^^" skip saja, dengan belajar kita pasti tahu kok :) 

Makanya, sekedar memiliki jubah keduniawian itu tak menjamin masa depan seseorang indah. Indah sih indah, boleh boleh saja, tapi sementara dan itu cuma berlaku di dunia. Setahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun atau lebih sedikit? Atau yang sialnya berusia singkat. Kemudian tiba-tiba menguap..wuuuzz..tak meninggalkan apa-apa. Indah yang fana.

Di situlah kugarisbawahi, bahwa masa depan yang luar biasa indah, cerah, menentramkan berada di tangan Allah dengan perantara seorang imam yang SHALIH. Shalih itu MAHAL. Duh, orang-orang yang shalih itu, ketika meminang, tidak perlu dihalangi dengan mahar yang mahal, karena sebenarnya mereka itu jauh lebih tinggi nilainya, bahkan tak bisa dinilai dengan angka dan materi. Hal apa yang bisa menggantikan keshalihan? Menurutku sih, tak ada. Keshalihan membawa kebaikan. Kebaikan yang terasa indah di dunia apalagi di akhirat kelak. Itulah masa depan yang luar biasa indah, ya..bagi wanita yang menjadi makmumnya.

Jika ia shalih, maka baiklah makmumnya, baiklah bibit-bibit yang menjadi generasi penerusnya, baiklah umat selanjutnya. Syukur sekali jika ternyata sang imam shalih itu pun dianugerahi Allah dengan ilmu-ilmu dunia, wawasan yang luas, lalu sudah jelas bagaimana elok akhlaknya..ooh..apalagi jelas memiliki ilmu agama yang menjadi pedoman agar selamat di dunia dan akhirat, ilmu yang menjadi benteng dari perilaku-perilaku amoral, ilmu yang in syaa Allah bisa menjadi alarm untuk senantiasa mengingat Rabb Yang Maha Kuasa. Dimana kurangnya? Pakai kacamata qalbu untuk melihat, maka takkan ada lagi cela. Rasulullah saja menganjurkan, pilih dan utamakan ia yang shalih. Dengan begitu maka selamatlah rumah tangga. Cerahlah masa depan, in syaa Allah.
Shalih itu sudah mencakup semuanya. Semua kebahagiaan. :)

Aku, gadis yang sedang belajar dan akan terus belajar sepanjang hayat, tidak berani meletakkan masa depan di tangan seseorang yang jauh dari Rabb-nya. Jauh dari Rabb, berarti jauh dari masa depan dunia akhirat yang cerah, indah, dan selamat. Ia yang mungkin tak memiliki banyak hal dunia dalam pandangan makhluk, jika ia shalih (berakhlak baik juga berilmu), adalah yang paling kaya dalam pandangan Allah. Ia adalah yang teristimewa bagiku. Apa itu berarti aku mencari yang sempurna? Bukan. Bukankah tak ada manusia yang sempurna? Sama, aku juga. Toh kesempurnaan itu sederhana dalam pandanganku. Tak perlu menghitung berapa banyak tabungannya, tak perlu sibuk menilai bagaimana tampilannya, tak peduli seberapa berbeda karakter dan kehidupan kami, ia yang shalih (berpotensi shalih) adalah yang TERBAIK dari-Nya.

Kelak, aku dan dia, akan dianugerahkan rasa nyaman dan cinta untuk satu sama lain. Allah sudah mengatur itu, dan tak ada waktu untuk mencemaskannya. Tugasku dan dia, hanya berusaha memperbaiki diri agar menjadi layak untuk bersama, bersatu, dan saling berbagi. :)

***

Masa depanku yang luar biasa indah, berada di tangan engkau yang shalih...
Aku mungkin belumlah pantas, belumlah layak, itulah mengapa kita belum dipertemukan?
...maafkan...
Namun bukan berarti aku berhenti untuk membaikkan diriku.
Do'akan aku bisa sepertimu, shaliha dalam pandangan-Nya,
karena aku tahu engkaupun mendambakan wanita yang baik lagi shaliha.
Do'akan aku yaa..
agar menjadi makmum yang shaliha dan semakin shaliha dalam bimbinganmu nanti,
masa depanku...

***

Makassar, 17 Juni 2013, jam 12 malam, di ruang tamu rumahku.
Tepat saat ketuk palu untuk kenaikan BBM dan membaca status fb teman-teman yang bersorak-sorai dalam kepiluan. Alhamdulillah bagi yang punya kendaraan pribadi, dan sedikit kewaspadaan terhadap biaya mahar yang (bisa saja) sedikit naik. Oh tidaaak..ia yang shalih tak boleh tersingkir hanya karena materi. Di depan wali, akan kuperjuangkan dirimu, sebagaimana engkau ridha dan ikhlas memperjuangkan untuk menjemputku..^^ haduuh..haduuuh.. lanjut skripsi ah! Biar jadi wanita shaliha yang berpendidikan. Menulis semua di atas, bukan berarti membuatku berpisah dengan skripsi dan target lulus bulan September ini. hehe :D semoga lancar dan sukses..Aamiin. ^_^
Wassalamu'alaikum. Met istirahaaatt. Faqir ilmu undur diriii.. :)


salam,
rahmah/emma

*eh, sebentar lagi..masuk bulan Ramadhan..in syaa Allah, semoga bisa bertemu.^^
di umur 'yang baru' nanti mesti lebih gencar mensahabati Al-Qur'an. Surah-surah utama dan favorite mesti dihafal dan ditadabburi serta diamalkan, kalau itu lancar, lanjutkan hafal per-juz *harus cari tahu metode yang baiknya nih* in syaa Allah! GANBATTE!! HIDUP MAHASISWA!! hehe

No comments:

Post a Comment

say what u need to say.. ^_^