Tuesday, September 10, 2013

Panggilan "Ustadz" yang diobral?

Mengkritisi Kuburan Keramat

Seperti sebutan 'mulia' lainnya, sebutan 'ustadz' belakangan ini diobral. Ustadz adalah guru, mayoritasnya adalah sebutan untuk guru agama atau guru pelajaran umum yang agamis atau guru pelajaran umum di sekolah-sekolah islami.

Namun saya dengan kejujuran agak kecewa jika seseorang bermudah-mudah menyebut orang selainnya yang mungkin berilmu sedikit sepertinya dengan sebutan 'ustadz', padahal mengajar pun tidak pernah/bisa, berbicara agama secara nyata (bukan di dunia maya lho ya, karena di dumay siapapun bisa bicara tentang apapun) dan jelas terlihat berilmu dan tidak ketahuan jelas bagaimana dia beragama di dunia nyata.

Jika baru membuat status religius secara berkala atau blog religius atau berpakaian religius langsung layak disebut ustadz, maka ini mengkhawatirkan sekali.

Really, bahkan yang sudah mengajar umat pelajaran agama di dunia nyata saja belum tentu layak dipanggil ustadz.


Saya menimbang-nimbang dulu, 'Apa fikiran seperti ini hanyalah hasil dari iri hati saya terhadap orang-orang yang biasa di mata saya namun disebut ustadz oleh beberapa manusia?'

Ternyata tidak. Saya tidak iri pada yang semacam ini. Terlebih yang kesannya malah merasa seperti dihembuskan angin segar jika dipanggil 'ustadz' atau 'stadz' dll. Saudaraku, jika kamu merasa ge'er seperti itu, justru itu tanda psikologis yang jelas bahwa kamu tidak layak disebut seperti itu. Seperti: ulama mana yang tergetar ge'er ketika dirinya disebut ulama?

Selain itu, sangat annoying di fikiran saya (ini subjektif berarti) jika membayangkan si fulan yang belum kelihatan ilmunya kecuali gamis, peci dan label 'As-Salafy' disamakan dengan guru-guru saya yang memang berilmu agama meskipun seringkali tak memakai gamis dan peci serta tanpa menggelarkan diri dengan nisbatan seperti 'As-Salafy' atau dengan jabatan seperti 'Mudiir'.

Saya fikir kita masing-masing perlu muhasabah lebih tentang ini. Ketika Anda menyebut seseorang yang masih belia (baik belia usia maupun belia ilmu) dengan sebutan 'ustadz' atau malah 'syaikh', Anda tidak tahu apa yang terbait di hatinya. Jangan sampai Anda membuat rasa ujub, sombong dan tinggi yang sempat terpendam di kuburan keramat malah bangkit lagi karena Anda sediakan sesajian pujian.

Juga, lebih diutamakan lagi kita masing-masing mengangkat diri sendiri dulu dari kebodohan, daripada mengangkat orang lain dengan sebutan-sebutan yang belum layak baginya. Bagi kaum awam (baik yang rela disebut awam atau tidak rela) yang kadang bertaqlid (baik yang merasa dirinya tak pernah bertaqlid atau yang masih tidak lupa posisi dan kualitas diri), mungkin tidak pernah berfikir bahwa sebutan 'ustadz' itu tidak ringan konsekuensinya bagi orang yang disebut seperti itu.

by Hasan Al-Jaizy



***

YUP..SALINTEMPEL :)
Semoga bermanfaat...


salam,

rahmah/emma

No comments:

Post a Comment

say what u need to say.. ^_^