Monday, April 06, 2015

Sahabat Shalih, genggamlah ia! :)

Al-Imam Syafi'i Rahimahullahu berkata, "Apabila kamu memiliki sahabat yang membantumu dalam taat (kepada Allah), maka eratkanlah genggaman tanganmu terhadapnya. Betapa sulitnya mencari teman dalam taat dan alangkah mudahnya ia terlepas."
Luqman Al Hakim alaihissalam berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, jadikanlah sahabat yang shalih sebagai sesuatu yang pertama engkau dapatkan setelah keimanan kepada Allah. Sesungguhnya perumpamaan sahabat yang shalih layaknya sebuah pohon. Jika engkau duduk di bawahnya, ia akan menaungimu. Jika engkau mengambil sesuatu darinya, ia akan memberimu makanan dari buahnya. Dan jika engkau tidak mengambil manfaat darinya, ia tidak akan memudharatkanmu."
Al Faruq Umar bin Khattab radhiyallaahu anhu berkata, "Tidaklah aku diberi nikmat setelah nikmat Islam yang lebih baik daripada nikmat memiliki sahabat yang shalih. Jika kalian memiliki sahabat yang shalih, peganglah ia erat-erat."

Friday, February 13, 2015

Agar AKU selalu ingat..

Assalamu'alaikum, Good people :) Sehat? Sudah makan? :D

Syarat kuliah di Arab (Mekkah Madinah --> ba'da tanya-tanya dan searching info) bagi wanita agak ribet..^^ harus ada mahram yang mengantarnya. Atau setidaknya di sana ada keluarga yang stay. Sebenarnya ada syarat lain yang agak memberatkan sih yakni umur. huhu :D

Bagi kami yang wanita, setahuku, jika tidak darurat, maka gerak kami 'dibatasi' oleh syariat. Ada hukum tertentu bagi kami untuk belajar di tempat yang jauh. Wallahua'lam. Tapi itu bukan suatu kekurangan bagi kami, karena ada kebaikan dan hikmah di baliknya. Aku selalu setuju bahwa pria memang diberi akses dan kelebihan satu tingkat di atas wanita dalam hal tertentu. Sebab pria memang imam/pemimpin..yang harus selalu berusaha mempersiapkan diri sedemikian baik sebagai seorang pemimpin.


Iya, bagaimanapun pria tetap pemimpin. Setinggi apapun jenjang pendidikan seorang istri dibanding suaminya, tetap saja istri wajib patuh pada suami (dalam perkara ma'ruf).
Nah..itulah salah satu kelebihan yang diberikan Allah kepada kaum pria.

Di saat ada batasan tertentu untuk kami para wanita, maka pria tidak. Kalau pria MasyaaAllah..ia ingin menempuh pendidikan dimana saja bisa. Arab..Eropa..Turki..Jepang..dimana saja. Apalagi jika ia mengedepankan ilmu agama, tanpa menganggap ilmu yang lain tidak penting. Semua ilmu baik. Seorang pilot pesawat terbang yang sholeh karena paham ilmu agama bukankah lebih baik dari pilot yang tidak sholeh karena ketidakpahamannya pada ilmu agama?

Thursday, February 12, 2015

Pertanyaan Kapan Yang Tak Berujung


Kepada yang belum pakai toga jangan tanyakan "kapan nyusul"?, tapi langsung do'akan "insyaAllah kamu segera nyusul".

Kepada yang belum dapat pekerjaan setelah sarjana jangan tanyakan "kok nganggur? kenapa gak kerja?", tapi langsung do'akan "insyaAllah kamu segera dapat kerja atau bisa buka lapangan pekerjaan".

Kepada yang belum menikah jangan tanyakan "kapan nyusul nikah nih?", tapi langsung do'akan "insyaAllah kamu segera nyusul dengan jodoh yang baik".

Kepada yang belum khatam hafalan 30 juznya jangan tanyakan "kapan mau khatam? Tidak maju-maju", tapi langsung do'akan "insyaAllah kamu juga bisa segera..semangat ya"

Kepada yang sudah menikah tapi belum juga dikaruniai anak jangan tanyakan "sudah hamil belum? Kapan nih mau punya anak?", tapi langsung do'akan "insyaAllah kamu segera diamanahkan anak..yang shalih shalihah pula".

Friday, January 02, 2015

Bidadari Beransel

Sewaktu SMA, belajar di sekolah umum, belajarnya ikhtilat, belajar agama di sekolah cuma dua jam seminggu..tapi bukan berarti tidak ada bibit-bibit laki-laki shalih dan perempuan shalihah di sana. Meski pelajaran agama bukan prioritas seperti yang ada di sekolah khusus ilmu agama, tapi selama siswa itu sendiri mau, mereka bisa mencari ilmunya di organisasi dakwah sekolah dan banyak majelis ilmu luar sekolah yang sudah Allah siapkan.

Hidup itu pilihan... :)


"Hidayah itu seperti sinar matahari. Ia ada. Siap menyinari. Selalu menyinari. Hati kita saja yang cukup dibuka dengan ikhlas agar sinar Hidayah itu masuk dan membagi hangatnya.."

Di mataku sendiri, cukup banyak kutemui bidadari beransel di sekolah. Aku sedang mengingat salah satu kejadian kecil tapi bermakna. sewaktu hijabku masih labil (kadang cukup panjang, kadang kecil dan pantasnya cuma jadi dalaman kudung ~buatku sekarang~, besok-besok panjang lagi..hmm), tidak pernah sekalipun kurasakan ditegur kasar atau dicela oleh senior atau kawan muslimah yang hijabnya sudah syar'i saat tu. Dengan hijabku yang kecil, sadar tidak sadar ternyata rambutku menyembul keluar di belakang punggung. Seorang kakak berhijab lebar menepuk pelan punggungku sambil berkata dengan suara lembutnya "dek, rambutnya keluar..sini kurapikan..". Kami yang saat itu berada di tengah lapangan, langsung mencari sudut sekolah dimana tidak ada laki2 yang bisa melihat. Ia membantuku merapikan rambut dan hijabku.

Tuesday, December 23, 2014

Dia yang PHP Atau Kamu yang Geeran?

Assalamu'alaikum. Bismillah. :)

Fenomena PHP dan Menimbun Harapan Sendiri. Ah...itu tema tulisan kali ini. ckck

Buat adik dan kakak-kakak wanita,..simple saja sih...selama si 'dia' belum nembak (bilang suka langsung, mengajak untuk berumah tangga, atau melamar), gak perlu geer dengan segala macam perhatiannya. Orang baik kan memang banyak, bisa siapa saja. Jadi jangan berpikir hanya dirimu saja yang dibaikin sama dia. Iya kan? ^^ Karena boleh jadi bukan cuma kamu yang diperhatiin (itupun sebenarnya diperhatiin sebagai teman sih). Mungkin dia orangnya memang baik pada semua orang. Banyak orang yang seperti itu, termasuk dirimu sendiri mungkin? Yang bersikap ramah (tapi kadang..tidak tahu menempatkan keramahan dengan benar dan aman, saya pun kadang lalai bersikap). Jadi tergantung kita sebagai wanita bagaimana pandai-pandai menjaga perasaan dan hati kita sendiri, perlu dipagarin dengan logika. Kawan pria boleh kasih kita perhatian bertubi-tubi, tapi selama hati bisa dijaga (tidak geeran) insyaa Allah kita aman (karena kita tidak sibuk menimbun harapan lebih yang sebenarnya tak pernah ada untuk kita).


Geer itu manusiawi memang, tapi sebaiknya geernya itu kalau sudah JELAS saja. Jelas kayak gimana? Misalnya nih...si dia sudah bilang sendiri tentang isi hatinya kepada kita, tentang keseriusannya malah. Nah..kita geer di saat seperti itu malah cantik. hehe. Wajar banget. Bukan geer karena tafsiran sendiri..sebab kebaikan dan kepedualiannya yang umum, bukan pula akibat "katanya..katanya.." (katanya teman kita, dia suka kita..katanya si anu..katanya si itu..ahk..kabar itu kan belum shohih!). Kalau sudah 'ditembak/dilamar' oleh si dia langsung, nah kitanya wajar banget untuk geer. Bahkan rasanya..tidak ada alasan lagi untuk tidak merasa geer, desyo? :)

Thursday, December 04, 2014

Jika dighibah dan difitnah?

"Jangan suka berkumpul dengan orang yang hobinya ngomongin orang lain. Karena sekali kamu nggak ikut ngumpul, kamu yang diomongin" (hihi..pesan dari dp bbm teman ^^)

**
Salah satu cara cerdas dalam menyikapi ghibah dan fitnah itu adalah dengan cara menambah kebaikan, memperluas jaringan silaturahim, memperbanyak porsi sedekah dan ambil wudhu dirikan shalat dua rakaat saja. Lalu berlama-lamalah di sana... :)

Kalau cara itu kurang pas, maka ada 3 renungan renyah untuk menyikapinya:

1. Jika ia membicarakanmu di depan maka jelaskanlah barangkali pemahamannya rendah makanya memilih makan bangkai busuk daripada daging yang halal.

Tuesday, December 02, 2014

Fiksimini : Menjadi Milikmu

"Hmm.. Aku tahu kau belum mahir memasak. Tapi jika melihatmu berusaha memasak untukku, seperti tadi, aku selalu senang.." sejenak kulihat senyummu, "meskipun tetap masakanku yang masih lebih enak, dinda.. Akui sajalah. Ya kan?" lanjutmu sambil tertawa menang.

Ya, itu katamu, setelah kupaksa kau memberikan pendapatmu tentang kegiatan masak-masak tadi. Sebal, tapi mengapa suka? Mungkin bukan sebal namanya. Wajah merajukku, membuatmu mengelus kepalaku kemudian. Aku selalu suka sikapmu itu. Saat aku terkekeh, kau menjepit hidungku dengan jari. Dasar kau...

Aku sedang teringat saat kau membantuku memasak di dapur, kanda. Begitu berantakan, tapi kita berhasil. Kikukku memegang alat dapur, memotong ayam dengan cara tak lazim menggunakan gunting (maklum kanda, pisaunya kurang tajam! Ah, alibiku saja..), membuatmu tersenyum kecil dan sigap menawarkan diri membantuku. Pria yang ulet. Tapi aku cukup lihai membersihkan sayur-sayuran dan menghilangkan akar tauge kan? Aku juga bisa menggoreng telur yang berbentuk hati sempurna. Maklumlah, memasak dengan penuh cinta bersama yang dicintai ya seperti itu..hehe. Namun sungguh aku malu dan sering salah tingkah, kau tahu itu, tapi tatapan lembutmu segera menenangkanku. Ah, bahkan mencuci perabot masakpun kau ingin kita kerjakan berdua. Padahal aku bisa sendiri lho, kanda. Rasanya aku begitu merepotkanmu, tapi entah mengapa ada rasa hangat di dada saat melakukan apapun denganmu, sekecil apapun itu. Kanda, terima kasih atas segalanya. Aku akan belajar, dan menjadi yang terbaik untukmu.

"Wah, puisi dinda bagus.." ucapmu tak jauh dari telingaku.

Monday, December 01, 2014

Belajar Jaga Jarak please!

Assalamu'alaikum warahmatullah.
Ada yang sedang makan jam segini? Temenin aku lah. Sekarang aku lagi makan Pempek khas Palembang, asli dari Palembang dikirimin sepupu 1 kotak besar. Abis hujan..dingin-dingin, goreng-goreng dan kukus Pempek trus disantap..Alhamdulillah~ ^^

Kali ini aku cuma mau sedikit (padahal banyak -___-") menumpahkan hmm apa ya..ketidaksukaan terhadap sikap sebagian laki-laki yang pernah kukenal. Kita berbicara di ranah sosial media saja. Dunia yang kalau digunakan tanpa otak, malah bisa lebih banyak mudharatnya, merasa sosmed menjadi dunia yang cukup aman untuk bertingkah seenaknya karena tidak bertemu langsung dengan lawan bicara, sikap diubah dan dibuat-buat, menjadi ambigu dan tidak bertanggungjawab.


Paraghraf di atas khusus bagi mereka yang bersosmed tanpa otak. Tidak bertanggungjawab. Tebar pesona, haus perhatian, ciri-ciri gagal eksis di dunia nyata. Yap..sebagian kaoum lelaki begitu. (Kaum wanita juga ada sih yang begitu..tinggal kitanya saja yang pintar-pintar untuk tidak meniru)
Masih banyak kok yang bersosmed dengan aman dan bertanggungjawab. Menjadi dirinya yang terbaik di sosmed sebagaimana dirinya di keseharian nyata. Mereka ini nih yang keren. Tidak perlu tebar pesona..karena pesonanya sudah memancar kemana-mana. :)

Friday, November 28, 2014

Catatan Untuk Istri

Bismillahirrahmanirrahim :)

Catatan Untuk Seorang Istri

Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan kamu belum tentu mencintainya seumur hidupmu. Justru sering kali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.


Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah-ibunya hingga dia beranjak dewasa. Tetapi sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad untuk menanggung nafkah seorang istri, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan tali pernikahan tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

Saturday, November 15, 2014

Untukmu, Para Pejuang Pena!

Assalamu'alaikum.

Alohaa..akhirnya blog ini terbobol juga. :D Alhamdulillah..

Oke. Kali ini aku mau curhat :p
Selama ini ketika belajar pendidikan ilmu agama di kelas (dari SD sampai SMP), entah aku yang kebanyakan tidur atau pelajarannya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, ataukah memang pelajaran tentang dilarangnya menyentuh lawan jenis nonmahram belum diajarkan guru..entah..tapi aku benar-benar baru paham tentang hal tersebut ketika membaca sebuah novel yang menang perlombaan (sepertinya tingkah nasional, hmm aku lupa..), di masa kelas 1 SMA. Judulnya "Ayo kita bersaing!". Nama penulisnya aku tidak ingat, tapi ia seorang muslimah. Ada yang pernah baca? Bagus menurutku. Settingnya sekolah SMA umum, pas dengan kondisi masa itu..hehe


Melihat antar teman tidak bisa salaman, bagiku dulu..aneh. Memangnya kenapa kalau salaman? Jabat tangan? Atau sekadar toss saat memenangkan pertandingan? Kita kan tidak berzinah. Hehe. Kelihatan banget jauh dari ilmu Islam. Namun lambat laun..Alhamdulillah dipahamkan Allah..lewat belajar dan belajar. Sekarang kalau melihat antar lawan jenis nonmahram bisa salaman bebas atau bahkan rangkul-rangkulan, hmm senyum saja dulu. :)

Tuesday, September 23, 2014

Dia yang tak pernah lupa..

Masjid ini tak ada hijabnya, maka aktivitas jamaah pria dan wanita di lantai atas bisa terlihat dengan leluasa. Kecuali jika jamaah sedang membludak, maka jamaah wanta akan diarahkan ke lantai bawah dan jamaah pria tetap di lantai atas (salah satu sisi lantai atas yang kumaksud adalah seperti di foto ini).


Kujatuhkan pandangan ke arah depan dengan pikiran yang lepas. Pria berkaos cokelat lusuh dengan celana panjang hitam yang sedari tadi duduk di antara jamaah pria bangkit berdiri. Kedua lengannya tertekuk, seperti membentuk huruf V, kaku, dan punggung tangannya seperti lemas terjatuh. Ia berjalan gontai menuju shaf belakang dengan kaki yang tak sempurna pula bentuknya. Pelan, tertatih, memegang tas selempangnya dengan tangan yang tertekuk kaku. Lelaki itu duduk kembali di shaf belakang, menengadahkan tangan berusaha ke depan tapi hanya bisa terangkat melebar ke samping. Ia sapu wajahnya kemudian. "Pasti ia baru saja berdo'a", batinku.