Wednesday, June 29, 2016

Kenapa Keras, Ukhti? Izinkanlah Saudarimu Berproses :)

Bila ada seorang wanita muslim mengenakan jilbab karena IKUT TREND, memangnya kenapa? Apa kita sudah Maha Hebat karena tahu isi hati seluruh manusia? Sejak kapan tugas malaikat kita ambil alih?
Afwan..maaf..punten..tabe' kasiang..
Ketika ada saudari kita yang memutuskan menutup auratnya, kuatkan ia jika kita bisa. Biarlah dia pakai. Izinkan dia pakai. Berikan ia senyuman. Dia hanya berjilbab lebar, bukan melakukan maksiat. Dia tersentuh melihat saudarinya sudah menutup aurat. Dia ingin. Dia tertarik. Bisa saja diam-diam ia membuka buku-buku agama yang bahasannya ringan untuk ia baca "ooh..ternyata menutup aurat itu wajib ya dalam Islam..walau akhlak kita belum baik".
Selama itu baik, kenapa terus-terusan dikritik pedas? Dari ikut trend, bisa saja kelak dia berjilbab lillahi ta'ala. 😊

Kita (Ya. KITA) bukankah kita mengiba pada Allah..menangis siang malam dalam doa agar diberi hidayah, diampuni dosanya, dipahamkan ilmu agama, dikuatkan belajar dan bisa istiqomah. Pada diri sendiri kita sebegitu baiknya berprasangka. Lalu...mengapa kepada orang lain kita terus-terusan berburuk sangka?
"Ih..si Mawar..berjilbab udah kayak artis-artis tuh"
"Lihat deh kerudung barunya Melati..pasti mahal. Biasalah..cuma mau gaya-gayaan.."
"Anggrek sekarang berjilbab pasti karena ikut trend saja. Padahal kan harusnya berjilbab karena Allah ya.."
(Ah...pedihnya hati ini mendengar saudari yang satu mengomentari saudarinya yang lain)

Friday, June 03, 2016

LOST IN JAPAN !!

Assalamu'alaikum.. Konbanwa! :D
Lagi ingat sesuatu nih.. ^_^

27 Juli beberapa tahun lalu, itu momen di mana aku akan kembali ke Kobe setelah menginap (homestay) di rumah keluarga Kokubo di Itami. Sebelum bercerita terlalu jauh, aku akan menjelaskan sedikit mengapa aku bisa berada di Jepang. Pada saat itu aku sedang mengikut program pertukaran mahasiswa di Jepang dan salah satu kegiatan kami adalah menginap di rumah keluarga Jepang yang bermitra dengan program ini. Aku bukan orang yang mudah menghapal rute dan nama jalan, jadi saat harus pulang sendirian menuju Kobe dari Itami aku mendapat sedikit masalah. Sesuai judulnya, yes, i’m lost in Japan! Dan itu bukanlah sebuah track record yang patut diacungi jempol. Huhu. Namun pengalaman itu tetap menjadi hartaku yang berharga, yang kini membuatku tersenyum.

Malam itu, keluarga Kokubo melepasku di stasiun kereta di Itami. Aku pulang sendirian dari Itami. Naik kereta sampai di Kobe, melewati beberapa stasiun, seorang diri. Selama berada di Jepang, aku tidak pernah berpisah dengan kedua temanku sesama mahasiswi dari Indonesia. Namun saat akan homestay, kami mesti terpisah sementara. Saat akan berangkat ke destinasi masing-masing ada mahasiswa Jepang yang mendampingi kami, lalu sang mahasiswa akan kembali ke Kobe. Kemudian saat pulang ke Kobe, dari destinasi masing-masing kami mesti pulang seorang diri.

Yosh! Kita berpetualang (sendirian)!! :D

Bismillah. Tak lelah kurapalkan doa agar perjalanan pulangku baik-baik saja. Stasiun masih ramai di malam hari musim panas. Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada keluarga Kokubo, aku berjalan memasuki gerbong kereta. Ada yang menoleh untuk melihatku, mungkin karena hijab panjang yang kukenakan. Di dalam kereta itu seingatku tak ada yang berpenampilan turis, semuanya nampak seperti orang Jepang pada umumnya. Jadilah aku sedikit mencuri perhatian beberapa orang di sana. Aku duduk di kursi empuk yang panjang. Dengan dada berdebar karena takut nyasar, kulihat secarik kertas pemberian Yoko san yang sudah diberi catatan nama stasiun yang akan kulewati dan stasiun tempatku turun yakni Stasiun Sannomiya.

Keringat dinginku meluncur melihat catatan itu penuh huruf kanji. Aku tidak tahu cara bacanya. Sejenak aku bingung mesti meminta tolong kepada siapa, ponselku dulu belum secanggih sekarang untuk menerjemahkan huruf kanji. Sebelum kereta benar-benar berangkat, ada seseorang yang melangkah masuk ke dalam kereta. Pria itu duduk di sebelah kananku, tak jauh dari posisiku. Kulirik orangnya, hmm..wajahnya ramah, pakaiannya santai rapi, dan tidak nampak sibuk, plus lumayan ganteng *eh. Dia hanya duduk tanpa memegang ponsel. Dia juga tidak nampak ingin tidur. Kuabaikan rasa malu dan segera mendekat untuk bertanya kepadanya. (Malu bertanya, sesat di jalan!!)

“Maaf..” (tentu dengan Bahasa jepang, tapi di sini kuterjemahkan saja)

“Iya?” si orang Jepang merespon cepat. Aku mendekat beberapa senti, dia juga mendekatkan dirinya.

“Maaf, aku ingin bertanya. Kalau mau turun di stasiun Sannomiya, mesti lewati stasiun apa saja? Aku tidak bisa baca kanji ini” sambil menunjuk catatan di kertas.

tiket pulang dari Itami ke Kobe :) baca tuh kanjinya! :D
 

Sunday, December 06, 2015

Buku antologi nonfiksi "Menggenggam Semesta" akan terbit :)

Alhamdulillah💗Buku antologiku insyaallah terbit lagi, "Menggenggam Semesta" judulnya. Tergabung dalam edisi ke-3 Buku Trilogi Dreams, seni mewujudkan mimpi, yang diterbitkan oleh Rumahkayu publishing.😊
Ini cover buku antologi terbaru yang insyaallah akan segera terbit. Tulisanku ada di buku "Menggenggam Semesta". Menggenggam Semesta adalah buku antologi cerpen, seri ke-3 dari trilogi Dreams yang diterbitkan oleh Rumahkayu Publishing. Kisah seni mewujudkan impian! InsyaaAllah akan proses cetak bulan Desember ini (*waktu pemesanan telah diperpanjang sampai 13 Desember 2015).😊

Wednesday, November 25, 2015

Menjadi Pembelajar Sampai Kapanpun :)

 
anak dari kakak-kakak di kelompok tarbiyah :)
Foto ini diambil di dua pekan yang berbeda, saat berada dalam halaqah. Gambar di atas diam-diam kupotret candid. Foto dua orang kakak yang sedang dimanjati punggungnya oleh anak-anak manis mereka di saat sang ibu tengah menyimak ilmu yang dibawakan ustadzah. Ingatkah kisah dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang bersujud dalam shalatnya lalu seorang cucunya yang masih kecil naik ke punggung beliau bermain-main? Saat itu Rasulullah tidak langsung bangkit dari sujudnya agar sang cucu tidak jatuh dan bisa puas bermain. Begitu kan kisahnya? Silakan koreksi ya jika ada yang salah.
Nah, kakak yang di foto pun tetap melanjutkan menulis catatan (ilmu agama) walau anaknya sudah naik ke punggung.

Asyik ya bisa bawa anak ke pengajian. Baru-baru ini saja mereka diikutsertakan. Berbulan-bulan kemarin sih tidak, si anak dititipin sama suami mereka. Hehe. Dan sweetnya, ada anak yang sudah hafal banyak surah quran dan doa-doa. Iih..keren deh! Suasana beberapa pekan kemarin juga lebih meriah. Dan bagusnya, anak-anak di foto ini tidak rewel lho. Anteng saja di pojokan main bareng sesamanya. Meskipun kadang mereka mencari ibu, sekadar 'gangguin' sebentar, atau minta cemilan..hehe.

Sunday, November 08, 2015

Tetap sama (Baiknya) di dua dunia

Sosial media. Dunia maya. Bagi sebagian orang, dianggap "dunia yang tak nyata".

Hal itulah yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memperlakukan orang lain dengan seenaknya. Lupa bahwa yang diajak berinteraksi di sosial media ini adalah sama-sama manusia juga, bernyawa, hidup, memiliki hati dan pikirannya, nyata..sungguh nyata seperti dirinya juga.

Sebagaimana kita berlaku sopan di hadapan orang lain dalam keseharian (ketika offline) misalnya, bisakah kita tetap sama sopannya saat berinteraksi di sosial media?


Tidak sembarangan.
Tidak seenaknya berkata kasar.
Tidak mudah membohongi.
Tidak modus.

Tetap menjadi pribadi yang sama baiknya di alam yang 'mereka' sebut 'nyata'. Tetap bertanggungjawab. Tetap jadi diri sendiri dengan versi yang tiap harinya digembleng agar jadi semakin baik dan diridhai. Tidak bertopeng dan bermuka dua.

Ada Tere Liye di Gramedia!

Setelah mengantri panjang, akhirnya aku sampai juga di deretan depan untuk minta ttd penulis yang bukunya baru kubeli on the spot😁. Ya Allah..ramainya pengunjung di acara launching buku bang Tere Liye. Penulis yang ogah ogah ogah bangeeett difoto berdua~bertiga~berdempet-dempetan sama fans ajnabi (nonmahram) ini karyanya selalu best seller. Masyaallah.😁

Ohya, soal foto..beneran deeeh.. Mending jaga jarak, mbak-mbak dan ibu-ibu! Karena penulis satu ini (aku lihat sendiri) nggak akan mau foto bareng dengan kaum hawa, kecuali yang masih bocil. Tapi kalau foto bareng fans laki-laki, boleh. Jadi bagi kaum hawa, jangan nekad minta foto bareng kalau gak mau ditolak tegas. Serius deh. Bakal ditolak tegas😂. Apakah itu salah? Nggak dong. Itu hak bang Tere Liye.

Wednesday, October 21, 2015

Kisah "Hantu Sholeh" di Rumah Hantu

Ada gitu hantu yang sholeh?😂
Waktu itu ada wahana Rumah Hantu yang dibuat entah oleh komunitas apa, sudah lama, lupa. Aku dan beberapa teman datang ke sana. Setiap pengunjung dikenakan tarif masuk, kalau sendiri lebih murah, kalau bertiga (ramai-ramai) justru mahal. Harganya dibedakan agar pengunjung mau masuk sendirian saja, kan murah. Tapi karena aku solid dan senang kebersamaan, aku masuk ke wahananya bertiga bareng teman-teman perempuan.

Saat masuk, wiiih..suasana berubah. Lorongnya minim cahaya, cuma remang-remang menuju gelap. Kami cuma bawa lilin. Ada bau dupa. Ada suara-suara mencekam selama kami menyusuri lorong dan berpindah ruangan, sayup-sayup tapi bisa membuat kaget dan bulu kuduk merinding, seperti suara langkah kaki, helaan nafas, benda jatuh, derit pintu, gesekan kertas, tawa cekikikan, tangis bayi, dan bersin... (yang jadi hantu kayaknya alergi debu atau dupa).

Friday, October 09, 2015

Celotehna Anak Mudayya :D

Tips bede' untuk pria yang pas-pasan uang na.
Padahal toh, masalah uang (untuk menikah) dan biaya hidup dan gaya hidup saat berumah tangga masih bisa dibicarakan baik2 dulu. Ngapana menyerah nampa tena pa usaha apa-apa?! Nda siap pi kapang mentalmu untuk jadi "pria", masih "cowok" jaki'?
Itu gambar tips nda tahu dari siapa, tapi lucu pas kubaca.
nemu tips macam ini ;D
Itumi nabilang orang gang..biasanya ceramahnya ustadz begini e, "Nikahilah wanita yang kamu ridha pada kesukaan dan kebiasaan (gaya hidup) sang wanita itu. Kalau sendal dia brand terkenal dengan harga ratusan ribu sampai jutaan, maka berusahalah membahagiakannya dengan membelanjakannya barang serupa kelak setelah menikah.

Tuesday, October 06, 2015

Melangitkan Doa di Festival Sastra Islam Nasional 2015

Doa kebaikan yang bunda Sinta panjatkan bersamaku saat itu seusai sesi/materi beliau di kegiatan Festival Sastra Islam Nasional 2015, diantara jatuhnya hujan yang membawa Rahmat Allah, semoga diijabah Allah. Doa yang memberi letupan semangat. Bisa menjadi penulis sebaik bunda Sinta, dan kelak bisa sepanggung dengan beliau di event nasional atau yang lebih besar. "Lagi hujan nih..banyak berdoa..semoga doa kita tadi diijabah", tambah beliau dengan senyum dan tatapan teduhnya. MasyaaAllah..Aamiin Allahumma aamiin.😇

bersama bunda Sinta Yudisia ^^ <3
Aku tak tahu kapan "hari itu" tiba, mendengar bunda Sinta berkata aku harus lebih baik dari beliau, jleb! aduhaaai~ada getaran apaaa begitu di dalam hati...aku sadar aku masihlah hijau dan butuh banyak belajar. Jangankan melebihi beliau, bisa menyamai aja belum. hehe. Tapi aku akan berusaha memantaskan diri untuk cita yang disertai dukungan dan doa bunda Sinta Yudisia. Menjadi salah satu hamba Allah yang bisa berkontribusi untuk kebaikan umat.💛

"Hmm..sepertinya saya pernah lihat. Kita pernah ketemu dimana ya?"

Sunday, September 06, 2015

Muslimah Harus Kalem?

Ada sebuah tulisan yang ingin aku share. Silakan baca yaa.😊

***
Muslimah harus kalem? Muslimah gak boleh pecicilan? Muslimah harus mingkem?
Gini...Sebelum hijrah saya sempat mikir juga, jadi muslimah itu kudu kalem ya? Harus mingkem terus? Gak boleh ketawa? Hal ini sempat membuat saya OGAH pakai jilbab.
Lebay ya saya? Emang!! Sebegitunya saya mikir tentang karakter muslimah yang ideal *eeaa

Sampai akhirnya saat hidayah itu menyapa, saya mencoba menjadi orang lain. Ada seorang kakak yang menjadi figur akhwat banget bagi saya. Kata-katanya lembut, cantik parasnya, kalau ngomong pelan-pelan, jalannya anggun.
Beberapa bulan awal saya menjadikannya figur untuk saya. Bisakah? BIG NO. Yang ada saya stres, banyak emosi dan potensi terpendam. Hinggaaaa akhirnya saya curhat ke kakak mentor dan oleh beliau diberikan sebuah kisah yang jleb.

Thursday, August 27, 2015

Untukmu...Move up!!

Untukmu, jiwa yang sesungguhnya kuat.💜

Jangan pernah memohon kepadanya yang meninggalkanmu itu untuk tetap berada dalam hidupmu. Tidak ada alasan untuk menahan seseorang yang sudah sering melepaskan genggaman tangannya darimu dengan mudah. Ia menyiakanmu. Adamu tak berharga baginya.

Tunggulah nanti ketika kamu telah berbahagia dengan seseorang yang lebih baik dalam segala, seseorang yang tidak menyiakanmu, seseorang yang menjadikanmu separuh jiwanya. Tanpa kamu pinta dan harapkan, ia yang sudah menyepelekanmu akan tertunduk malu dalam kenangan penuh penyesalan panjang.