Wednesday, February 22, 2017

Kata mereka tentang Bapak..

"Nak, tidak ada orang yang jadi miskin karena ikhlas dan senang bersedekah dan menolong orang lain. Kalau ada rejeki, bantu saja. Walau tidak kenal, tolong saja apa yang kita bisa. Allah yang mengurus kita. Tidak perlu khawatir."
Bapak berpesan untuk tidak pernah pelit, tidak kikir. Dan memang itulah yang Bapak tunjukkan selama hidupnya.
Dan sepeninggal Bapak, tak pernah sekalipun kutemukan kalimat miring tentang Bapak. Dermawan, baik, amanah, jujur, dihormati, dekat dengan orang kecil dan para pegawai di kantor, hal-hal baik inilah yang sangat sering kudengar dari lisan orang-orang.
"Bapakmu itu..baik sekali. Cerdas, bertanggungjawab, pekerja keras, sederhana, dan disukai orang-orang," seorang staf Bapak memulai ceritanya di suatu hari, "Bapakmu itu berani berkata yang benar dan anti korupsi. Beliau tidak pernah mau terima barang dan uang yang tidak jelas sumbernya. Saat rekan-rekannya sudah gonta-ganti mobil, beliau tetap santai dengan kendaraan kijang tuanya, sampai bisa membeli mobil baru sendiri, padahal dulu selalu ditawari mobil mewah tapi selalu ditolaknya. Bapakmu sering bagi-bagi rejeki ke orang-orang. Sering bantu orang yang susah. Bapakmu pejabat miskin. Sering beliau bilang begitu tentang dirinya. Pejabat sederhana yang kaya hatinya, itulah yang kami lihat."

Sunday, February 05, 2017

Hadiah sayembara menulis dari Turki :)

Bismillaah.

Postcard yang ada di tangan teh Nabila Hayatina dengan latar Kota Istanbul pada salah satu foto, kini sudah tiba di tanganku. Alhamdulillah. Walaupun latar fotonya Danau Kampus Unhas..sama-sama ada airnya..hehe. Tulisan yang kukirim menjelang akhir tahun 2016 lalu menjadi salah satu tulisan yang berkenan di hati teh Nabila. Aku dikirimi email dari teh Nabila untuk konfirmasi pengiriman hadiah. Jauh-jauh hadiahnya terbang dari Turki. Selamat. Eh btw Jodoh..kamu kapan terbang ke sini? *jangan abaikan* >,<


Nah..isi tulisanku waktu itu..hmm berkaitan dengan Al-Qur'an. Hal yang akhirnya menjadi ide untuk kusampaikan ke sahabat panitia saat merancang lomba essay bertema sama pada pre-event Talkshow Inspiratif Al-Qur'an Komunitas Manjaddawajada Makassar😊.

Saturday, February 04, 2017

Dilemanya para Fresh Graduate : Setelah Wisuda, ngapain ya?

Dilemanya wanita : Setelah lulus dari kampus ngapain? Bekerja atau tidak? Nikah atau lanjut S2? Setelah menikah bagaimana? Ah.. Sudah, tidak perlu dilema lagi.😁

Menurutku.. Kalau ditanya "kerja dimana sekarang?", itu lebih mendebarkan dibanding "kapan lulus?". Hehe. Jadi buat adik-adik yang masih kuliah, nikmatin saja skripsi dan thesisnya. Cepat lulus itu Alhamdulillah. Kalau rejeki lulusnya di tahun ke-5 juga Alhamdulillah. Masing-masing orang punya problemnya. Hadapi. Nikmati. Kan InsyaAllah cepat atau lambat bakal lulus juga.😀

Kalau ditanya soal kerja, bebannya lain lagi. Apalagi yang baruuu saja lulus, tapi belum bekerja. Langsung dicap pengangguran. Kerja tetap belum dapat. Lanjut S2 kurang minat. Rintis usaha sendiri juga tidak tahu, bingung, merasa tidak berbakat. Mau nikah eh tapi belum dilamar. Oh God.. lengkap sudah yaa. hehe

Friday, August 19, 2016

Sekolah tinggi, Bekerja, atau Menikah

S1 - S2 - kerja - menikah

S1 - kerja - menikah - lanjut S2

S1 - kerja- menikah - tidak lanjut S2
Pilihan banyak. Dan semua orang bisa memilih sesuai apa yang dia butuhkan. Ada pekerjaan tertentu yang memang mensyaratkan kita harus S2, maka kita bisa memilih S2. Ada yang merasa cukup dengan S1, menikah dahulu, bila sikon memungkinkan akan lanjut S2 (ridho suami tentu perlu). Ada yang sudah S1 dan lanjut bekerja, kelak menikah dan tidak lanjut S2 karena punya kepentingan lain.


Wanita berpendidikan tinggi itu baik. Bila ia paham ilmu agama, tentu akan lebih baik lagi. Pendidikan yang dimiliki tidak digunakan bersaing dengan laki-laki dan merasa lebih tinggi derajatnya dari ayah dan suaminya. Bukan pula untuk berbangga-bangga. Semakin berilmu, semakin ia menghormati orangtua dan suaminya, semakin merunduk bak padi yang berisi. Yang ia tahu, ilmunya bisa digunakan untuk mendidik anaknya sendiri dan memberi manfaat besar pula untuk ummat.

Wednesday, June 29, 2016

Kenapa Keras, Ukhti? Izinkanlah Saudarimu Berproses :)

Bila ada seorang wanita muslim mengenakan jilbab karena IKUT TREND, memangnya kenapa? Apa kita sudah Maha Hebat karena tahu isi hati seluruh manusia? Sejak kapan tugas malaikat kita ambil alih?
Afwan..maaf..punten..tabe' kasiang..
Ketika ada saudari kita yang memutuskan menutup auratnya, kuatkan ia jika kita bisa. Biarlah dia pakai. Izinkan dia pakai. Berikan ia senyuman. Dia hanya berjilbab lebar, bukan melakukan maksiat. Dia tersentuh melihat saudarinya sudah menutup aurat. Dia ingin. Dia tertarik. Bisa saja diam-diam ia membuka buku-buku agama yang bahasannya ringan untuk ia baca "ooh..ternyata menutup aurat itu wajib ya dalam Islam..walau akhlak kita belum baik".
Selama itu baik, kenapa terus-terusan dikritik pedas? Dari ikut trend, bisa saja kelak dia berjilbab lillahi ta'ala. 😊

Kita (Ya. KITA) bukankah kita mengiba pada Allah..menangis siang malam dalam doa agar diberi hidayah, diampuni dosanya, dipahamkan ilmu agama, dikuatkan belajar dan bisa istiqomah. Pada diri sendiri kita sebegitu baiknya berprasangka. Lalu...mengapa kepada orang lain kita terus-terusan berburuk sangka?
"Ih..si Mawar..berjilbab udah kayak artis-artis tuh"
"Lihat deh kerudung barunya Melati..pasti mahal. Biasalah..cuma mau gaya-gayaan.."
"Anggrek sekarang berjilbab pasti karena ikut trend saja. Padahal kan harusnya berjilbab karena Allah ya.."
(Ah...pedihnya hati ini mendengar saudari yang satu mengomentari saudarinya yang lain)

Friday, June 03, 2016

LOST IN JAPAN !!

Assalamu'alaikum.. Konbanwa! :D
Lagi ingat sesuatu nih.. ^_^

27 Juli beberapa tahun lalu, itu momen di mana aku akan kembali ke Kobe setelah menginap (homestay) di rumah keluarga Kokubo di Itami. Sebelum bercerita terlalu jauh, aku akan menjelaskan sedikit mengapa aku bisa berada di Jepang. Pada saat itu aku sedang mengikut program pertukaran mahasiswa di Jepang dan salah satu kegiatan kami adalah menginap di rumah keluarga Jepang yang bermitra dengan program ini. Aku bukan orang yang mudah menghapal rute dan nama jalan, jadi saat harus pulang sendirian menuju Kobe dari Itami aku mendapat sedikit masalah. Sesuai judulnya, yes, i’m lost in Japan! Dan itu bukanlah sebuah track record yang patut diacungi jempol. Huhu. Namun pengalaman itu tetap menjadi hartaku yang berharga, yang kini membuatku tersenyum.

Malam itu, keluarga Kokubo melepasku di stasiun kereta di Itami. Aku pulang sendirian dari Itami. Naik kereta sampai di Kobe, melewati beberapa stasiun, seorang diri. Selama berada di Jepang, aku tidak pernah berpisah dengan kedua temanku sesama mahasiswi dari Indonesia. Namun saat akan homestay, kami mesti terpisah sementara. Saat akan berangkat ke destinasi masing-masing ada mahasiswa Jepang yang mendampingi kami, lalu sang mahasiswa akan kembali ke Kobe. Kemudian saat pulang ke Kobe, dari destinasi masing-masing kami mesti pulang seorang diri.

Yosh! Kita berpetualang (sendirian)!! :D

Bismillah. Tak lelah kurapalkan doa agar perjalanan pulangku baik-baik saja. Stasiun masih ramai di malam hari musim panas. Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada keluarga Kokubo, aku berjalan memasuki gerbong kereta. Ada yang menoleh untuk melihatku, mungkin karena hijab panjang yang kukenakan. Di dalam kereta itu seingatku tak ada yang berpenampilan turis, semuanya nampak seperti orang Jepang pada umumnya. Jadilah aku sedikit mencuri perhatian beberapa orang di sana. Aku duduk di kursi empuk yang panjang. Dengan dada berdebar karena takut nyasar, kulihat secarik kertas pemberian Yoko san yang sudah diberi catatan nama stasiun yang akan kulewati dan stasiun tempatku turun yakni Stasiun Sannomiya.

Keringat dinginku meluncur melihat catatan itu penuh huruf kanji. Aku tidak tahu cara bacanya. Sejenak aku bingung mesti meminta tolong kepada siapa, ponselku dulu belum secanggih sekarang untuk menerjemahkan huruf kanji. Sebelum kereta benar-benar berangkat, ada seseorang yang melangkah masuk ke dalam kereta. Pria itu duduk di sebelah kananku, tak jauh dari posisiku. Kulirik orangnya, hmm..wajahnya ramah, pakaiannya santai rapi, dan tidak nampak sibuk, plus lumayan ganteng *eh. Dia hanya duduk tanpa memegang ponsel. Dia juga tidak nampak ingin tidur. Kuabaikan rasa malu dan segera mendekat untuk bertanya kepadanya. (Malu bertanya, sesat di jalan!!)

“Maaf..” (tentu dengan Bahasa jepang, tapi di sini kuterjemahkan saja)

“Iya?” si orang Jepang merespon cepat. Aku mendekat beberapa senti, dia juga mendekatkan dirinya.

“Maaf, aku ingin bertanya. Kalau mau turun di stasiun Sannomiya, mesti lewati stasiun apa saja? Aku tidak bisa baca kanji ini” sambil menunjuk catatan di kertas.

tiket pulang dari Itami ke Kobe :) baca tuh kanjinya! :D
 

Sunday, December 06, 2015

Buku antologi nonfiksi "Menggenggam Semesta" akan terbit :)

Alhamdulillah💗Buku antologiku insyaallah terbit lagi, "Menggenggam Semesta" judulnya. Tergabung dalam edisi ke-3 Buku Trilogi Dreams, seni mewujudkan mimpi, yang diterbitkan oleh Rumahkayu publishing.😊
Ini cover buku antologi terbaru yang insyaallah akan segera terbit. Tulisanku ada di buku "Menggenggam Semesta". Menggenggam Semesta adalah buku antologi cerpen, seri ke-3 dari trilogi Dreams yang diterbitkan oleh Rumahkayu Publishing. Kisah seni mewujudkan impian! InsyaaAllah akan proses cetak bulan Desember ini (*waktu pemesanan telah diperpanjang sampai 13 Desember 2015).😊

Wednesday, November 25, 2015

Menjadi Pembelajar Sampai Kapanpun :)

 
anak dari kakak-kakak di kelompok tarbiyah :)
Foto ini diambil di dua pekan yang berbeda, saat berada dalam halaqah. Gambar di atas diam-diam kupotret candid. Foto dua orang kakak yang sedang dimanjati punggungnya oleh anak-anak manis mereka di saat sang ibu tengah menyimak ilmu yang dibawakan ustadzah. Ingatkah kisah dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang bersujud dalam shalatnya lalu seorang cucunya yang masih kecil naik ke punggung beliau bermain-main? Saat itu Rasulullah tidak langsung bangkit dari sujudnya agar sang cucu tidak jatuh dan bisa puas bermain. Begitu kan kisahnya? Silakan koreksi ya jika ada yang salah.
Nah, kakak yang di foto pun tetap melanjutkan menulis catatan (ilmu agama) walau anaknya sudah naik ke punggung.

Asyik ya bisa bawa anak ke pengajian. Baru-baru ini saja mereka diikutsertakan. Berbulan-bulan kemarin sih tidak, si anak dititipin sama suami mereka. Hehe. Dan sweetnya, ada anak yang sudah hafal banyak surah quran dan doa-doa. Iih..keren deh! Suasana beberapa pekan kemarin juga lebih meriah. Dan bagusnya, anak-anak di foto ini tidak rewel lho. Anteng saja di pojokan main bareng sesamanya. Meskipun kadang mereka mencari ibu, sekadar 'gangguin' sebentar, atau minta cemilan..hehe.

Sunday, November 08, 2015

Tetap sama (Baiknya) di dua dunia

Sosial media. Dunia maya. Bagi sebagian orang, dianggap "dunia yang tak nyata".

Hal itulah yang menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memperlakukan orang lain dengan seenaknya. Lupa bahwa yang diajak berinteraksi di sosial media ini adalah sama-sama manusia juga, bernyawa, hidup, memiliki hati dan pikirannya, nyata..sungguh nyata seperti dirinya juga.

Sebagaimana kita berlaku sopan di hadapan orang lain dalam keseharian (ketika offline) misalnya, bisakah kita tetap sama sopannya saat berinteraksi di sosial media?


Tidak sembarangan.
Tidak seenaknya berkata kasar.
Tidak mudah membohongi.
Tidak modus.

Tetap menjadi pribadi yang sama baiknya di alam yang 'mereka' sebut 'nyata'. Tetap bertanggungjawab. Tetap jadi diri sendiri dengan versi yang tiap harinya digembleng agar jadi semakin baik dan diridhai. Tidak bertopeng dan bermuka dua.

Ada Tere Liye di Gramedia!

Setelah mengantri panjang, akhirnya aku sampai juga di deretan depan untuk minta ttd penulis yang bukunya baru kubeli on the spot😁. Ya Allah..ramainya pengunjung di acara launching buku bang Tere Liye. Penulis yang ogah ogah ogah bangeeett difoto berdua~bertiga~berdempet-dempetan sama fans ajnabi (nonmahram) ini karyanya selalu best seller. Masyaallah.😁

Ohya, soal foto..beneran deeeh.. Mending jaga jarak, mbak-mbak dan ibu-ibu! Karena penulis satu ini (aku lihat sendiri) nggak akan mau foto bareng dengan kaum hawa, kecuali yang masih bocil. Tapi kalau foto bareng fans laki-laki, boleh. Jadi bagi kaum hawa, jangan nekad minta foto bareng kalau gak mau ditolak tegas. Serius deh. Bakal ditolak tegas😂. Apakah itu salah? Nggak dong. Itu hak bang Tere Liye.

Wednesday, October 21, 2015

Kisah "Hantu Sholeh" di Rumah Hantu

Ada gitu hantu yang sholeh?😂
Waktu itu ada wahana Rumah Hantu yang dibuat entah oleh komunitas apa, sudah lama, lupa. Aku dan beberapa teman datang ke sana. Setiap pengunjung dikenakan tarif masuk, kalau sendiri lebih murah, kalau bertiga (ramai-ramai) justru mahal. Harganya dibedakan agar pengunjung mau masuk sendirian saja, kan murah. Tapi karena aku solid dan senang kebersamaan, aku masuk ke wahananya bertiga bareng teman-teman perempuan.

Saat masuk, wiiih..suasana berubah. Lorongnya minim cahaya, cuma remang-remang menuju gelap. Kami cuma bawa lilin. Ada bau dupa. Ada suara-suara mencekam selama kami menyusuri lorong dan berpindah ruangan, sayup-sayup tapi bisa membuat kaget dan bulu kuduk merinding, seperti suara langkah kaki, helaan nafas, benda jatuh, derit pintu, gesekan kertas, tawa cekikikan, tangis bayi, dan bersin... (yang jadi hantu kayaknya alergi debu atau dupa).