Sunday, April 12, 2009

明日の記憶 (Memories of Tomorrow)


Satu lagi drama keluarga yang patut ditonton. Film yang diproduksi tahun 2006 karya Yukihiko Tsutsumi ini berkisah tentang seorang pria yang divonis terkena penyakit Alzheimer. Apa itu Alzheimer? Setahu aku, Alzheimer adalah penyakit kepikunan/sering lupa, mulai dari hal-hal yang sederhana hingga lupa akan banyak hal. Penyakit ini dikatakan juga sebagai ‘penyakitnya orang tua’, penyakit ‘kemunduran ingatan’ yang menyerang para lansia (lanjut usia). Tapi tidak menutup kemungkinan penyakit datang di awal-awal usia [kalo aku keliru, tolong beritahu..^^]. Kisah yang mengangkat tema keluarga dan Alzheimer ini bisa kita saksikan pada film yang dibintangi aktor senior Jepang, Ken Watanabe, berjudul “Ashita no Kioku-Memories of Tomorrow”.

Directed by : Yukihiko Tsutsumi
Writing credits : Hiroshi Ogiwara(novel), Hakaru Sunamoto(screenplay)&Uiko Miura(screenplay)
Cast (in credits order) :
Ken Watanabe...Masayuki Saeki
Kanako Higuchi...Emiko Saeki
Kenji Sakaguchi...Naoya Ito
Kazue Fukiishi... Rie Saeki
Asami Mizukawa...Keiko Ikuno
Noritake Kinashi...Shigeyuki Kizaki
Mitsuhiro Oikawa...Takehiro Yoshida
Eriko Watanabe...Kimiko Hamano
Teruyuki Kagawa...Atsushi Kawamura
Hideji Otaki...Usaburou Sugawara
Produced by : Bernard Cahill...executive producer, Ken Watanabe...executive producer
Original Music by : Michiru Ôshima

Film berdurasi 122 menit ini dibuka dengan setting tahun 2010 dimana diperlihatkan sosok seorang pria paruh baya yang duduk menerawang langit senja dari balik jendela besar. Seorang wanita datang menaruh cawan bertuliskan Emiko (dengan tulisan hiragana) di atas meja. Lalu wanita itu mengambil bingkai dengan banyak foto dan memo yang tertempel di atasnya, menaruh bingkai foto itu tak jauh dari pria paruh baya yang masih saja betah memandang langit senja yang cerah. Mereka berdua duduk di kursi yang berbeda, tanpa satupun mengucapkan kata-kata…

Musim semi 2004. Saeki Masayuki, 50 tahun, (Ken Watanabe) adalah businessman yang telah mengabdikan dirinya di salah satu perusahaan besar di Tokyo, Jepang, selama 26 tahun. Sosok “Saeki-san” adalah seorang workaholic, pekerja keras, disegani bawahannya, serta memiliki seorang istri ideal bernama Saeki Emiko (Kanako Higuchi). Di sela kesibukannya menjalankan sebuah proyek, ia mulai mendapati dirinya sedikit berbeda. Ia mulai sering melupakan sesuatu, bahkan yang sederhana sekalipun. Ia bahkan sempat tidak mengenali rekan kerjanya sendiri di waktu makan siang. Keanehan demi keanehan terus terjadi. Sang istri, Emiko, mulai menyadari keganjilan itu setelah suaminya membeli barang yang sama terus menerus. Maka ditemani istrinya, Saeki memeriksakan diri ke dokter. Dan pasangan ini, terlebih Saeki, harus menerima kenyataan pahit. Saeki positif terkena penyakit bernama Alzheimer...



Film yang diangkat dari novel karya Hiroshi Ogiwara ini telah mendapat banyak penghargaan di Jepang sendiri. Aku yakin adegan dimana para bawahan Saeki memberikan penghormatan terakhir diiringi back sound andalan film ini mampu menguras air mata penonton. Sosok Emiko sebagai istri Saeki yang diperankan oleh Kanako Higuchi patut pula diacungi jempol. Emiko adalah wanita tabah yang selalu berusaha untuk tenang dalam situasi apapun. Betapa ia selalu menyemangati suaminya, tetap bijak dalam menghadapi kelakuan Saeki yang bisa dengan tiba-tiba marah tanpa sebab, hingga berlaku kasar. Meski ia dan Rie, anak mereka, kerap tidak dipedulikan oleh Saeki lantaran pekerjaan, akan tetapi Emiko dengan tabah menjalani kehidupannya, setia mendampingi Saeki, meski nantinya Saeki tidak mengingatnya lagi...

Ken Watanabe (bermain juga dalam film “The Last Samurai” dan “Memoirs of a Geisha”) sangat sukses memerankan tokoh Saeki Masayuki. Menurut sumber yang aku dapat, Ken Watanabe pernah beristirahat lama dari dunia perfilman karena penyakit Leukimia yang dideritanya. Disela kesibukannya, ia menyempatkan diri membaca novel ini (Ashita no Kioku) dan berkeinginan mengangkatnya menjadi sebuah film. Jadilah, Ken Watanabe ikut terjun dalam menyutradarai film ini. Banyak pelajaran berharga yang disuguhkan film ini untuk penikmatnya. Salah satunya pesan yang berkata bahwa keluarga adalah yang utama. Juga contoh kecil bagaimana masyarakat Jepang sangat disiplin dalam bekerja, disiplin waktu, dan memiliki rasa malu yang tinggi. Film ini juga mengingatkanku pada bapak...huhuhuu(miss my father so much!)
SANGAT kurekomendasikan untuk ditonton!! Jadi, selamat menonton! Jangan lupa, sedia tisu….~~ Semoga film ini dapat kita petik manfaatnya. Aamiin…



luv,
emma

1 comment:

  1. Anonymous2:50 AM

    pux filmx g?!
    pinjem dunks...

    ReplyDelete

say what u need to say.. ^_^