Monday, August 15, 2011

Apa karena pakaian kami? :)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum. aku ingin berbagi kisah. kamu mau tahu apa yang kurasakan ketika berada di bandara?

Sewaktu berada di negara minoritas muslim itu, berapa kali petugas bandara mengecek baju dan apa saja yang ada di balik gamis dan kerudungku, berbeda dengan salah satu teman yang tak berkerudung yang hanya sekali scan dan selesai.

ah, apa karena pakaianku?
apa yang mereka khawatirkan? *senyum*

Sewaktu salah seorang temanku yang mengenakan hijab yang jauh lebih besar dan longgar dariku beberapa kali membuang sampah di tempat sampah, berapa kali itu pula security bandara mengecek isi tempat sampah.

MasyaAllah...

sekali lagi, apa karena pakaian kami yang sangat berbeda dengan semua orang di sana?
Apa yang mereka kira kami taruh di dalam tempat sampah? *senyum*

Sewaktu kami bertanya dimana kami bisa melaksanakan ibadah shalat kami, petugas bandara yang baik hati menunjuk salah satu tempat di lantai 3. Memang tak ada tempat secara khusus untuk beribadah di sana, kami maklum akan hal itu, di sana bukan Indonesia.

Kami segera menuju ke tempat yang ditunjukkan. Aku dan temanku shalat secara bergiliran. Ketika temanku shalat, kulihat security bandara yang lain mengawasi kami dari kejauhan. Sesekali ia berbisik pada rekan di sebelahnya. Aku bisa tahu bahwa kami yang mereka bicarakan karena rekannya segera mendongakkan kepala untuk melihat aktivitas kami di salah satu sudut tenang bandara itu.

Bagi mereka, hijab dan mukenah yang kami kenakan sangat asing. Di musim panas malah berpakaian serba dan sangat tertutup. Jangankan di bandara, ketika berada di luar saja yang pakaiannya seperti aku selalu bisa menarik perhatian orang-orang. Beberapa memandang unik, sisanya memandang heran. Syukur-syukur kalau tidak ada yang lari karena takut. *senyum*


Iya, mungkin itu sama halnya dengan bagaimana aku heran melihat pakaian super minim kaum hawa di sana di musim panas seperti sekarang ini. Bukannya jika panas, kulit harus dilindungi dari sinar matahari langsung? Ah, entahlah...
Sepertinya yang kurasakan dan kulihat tidak jauh berbeda dengan muslimah-muslimah lain yang tengah berada di negara minoritas muslim. Terlebih bagi mereka yang benar-benar menetap lama di sana, karena itu tanah kelahiran mereka, atau karena mereka bekerja atau melanjutkan study untuk waktu yang cukup lama. Subhanallah...sungguh saudariku sangat kuat menjalaninya.

Aku sangat bersyukur, meski singkat, Allah memberiku kesempatan merasakan langsung bagaimana muslim dipandang di negara minoritas muslim. Dan hal itu tidak menyurutkan langkah dan niatku untuk bisa kembali atau mengunjungi tempat serupa di belahan bumi lain milik-Nya, suatu saat. Karena aku selalu yakin Allah akan selalu mengawasi dan melindungiku.

Melindungi kami...

Suatu hari, ketika aku kembali atau pergi ke tempat lain di bumi-Nya yang dikehendaki Allah, dengan bangga dan tersenyum aku masih akan mengatakan "Namaku Rahmah. Aku seorang Muslimah. Senang berkenalan denganmu."
Ya, inilah sepenggal kisahku. *senyum*

Selamat menanti waktu berbuka puasa. Senangnya saat bisa melahap es buah dan kolak yang tak dapat ditemukan di sana.. *tertawa*

SUNSET in ITAMI, JAPAN
Wassalamu'alaikum. Alhamdulillah. :)

6 comments:

  1. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  2. ardi ysf4:04 PM

    sudah ada cerita yang kita buat, penasaran sa baca, cara penulisan mu menarik,

    ReplyDelete
  3. Beberapa bulan mendatang akan puasa kembali
    ayo semangat

    ReplyDelete
  4. @Outbound : makasiihh.. :D

    @k' Ardi : sudah ada beberapa. ada yg dilombakan, ada yg dipost di fb iseng2. :D

    @Jefry : kelamaan buka ni blog. Lebaran malah dah lewat..hehe :)

    ReplyDelete

say what u need to say.. ^_^