Monday, June 03, 2013

LOST IN JAPAN !!

Assalamu'alaikum.. Konbanwa! :D
Lagi ingat sesuatu nih... ^_^
27 Juli 2011. Itu hari di mana aku akan kembali ke Kobe, setelah menginap di rumah keluarga Kokubo di Itami. Kesannya, nulis begini seperti mau nulis kisah fiksi ya? Hahaha. Tidak. This is real. I’m lost in Japan!! Dan itu bukanlah sebuah track record yang patut diacungi jempol. Namun bisa menjadi kisah yang bisa ditertawai :D dan benar-benar bisa diambil pelajarannya (untukku pribadi sih..hehe). Sesuai judul postingan di atas, maka aku akan lebih fokus menceritakan saat-saat nyasar tersebut. Hehee -___-“
Saat itu, Kokubo family melepasku di stasiun kereta di Itami, lupa nama stasiunnya apa. Aku pulang sendirian! Naik kereta sampai di Kobe, melewati beberapa stasiun, seorang diri! Selama berada di Jepang, aku tidak pernah berpisah dengan kedua juniorku. Kemana-mana (luar asrama) pasti bertiga. Tapi saat akan homestay, kami mesti dipisah sementara. Okelah, saat akan berangkat ke destinasi masing-masing ada mahasiswa Jepang yang mendampingi. Lalu sang mahasiswa kembali ke Kobe. Kemudian saat pulang ke Kobe, dari destinasi masing-masing kami mesti pulang seorang diri. Keluarganya tidak berkewajiban mengantar sampai ke Kobe. Lagipula, kami mahasiswa, rasanya aneh jika masih diantar sampai depan asrama, agak-agak tidak wajar T_T jadi terima nasib saja. Yosh! Kita berpetualang!! :D

Bismillah..aku berdo’a agar perjalanan pulangku baik-baik saja. Malam hari di musim panas, stasiun masihlah ramai. Setelah bersay gudbye dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Yoko okaasan dan keluarga, aku berjalan memasuki kereta. Ada yang menoleh untuk melihatku, ada yang sibuk dengan diri masing-masing. Di dalam kereta itu seingatku tak ada turis, semua asli orang Jepang. Jadilah aku sedikit mencuri perhatian beberapa orang di sana. Aku duduk di kursi empuk yang panjang. Dengan dada berdebar (takut nyasar), kulihat secarik kertas yang sudah dituliskan nama stasiun yang akan kulewati dan stasiun tempatku turun. Seingatku stasiun tempatku turun itu bernama Sannomiya. Aahk, mana tulisannya pakai kanji lagi!! Aku panik, sejenak bingung mesti meminta tolong kepada siapa. Sebelum kereta benar-benar berangkat, ada seseorang yang melangkah naik ke atas kereta. Laki-laki itu duduk di tak jauh dari tempat aku duduk. Kalau tidak sok kenal sok dekat bisa nyasar beneran nih?! Maju mundur untuk bertanya. Tapi kulirik lagi orangnya, hmmm..wajahnya ramah, pakaiannya rapi sopan, dan tidak nampak sibuk sepertinya. Bertanyalah, emma!! Bertanyalah!!! (daripada sesat di jalan..)

tiket pulang dari Itami ke Kobe :) baca tuh kanjinya!! :D
 
“Maaf..” (tentu saja dengan bahasa Jepang, tapi kutranslate saja yaa..) :D
“Iya?” si orang Jepang merespon cepat. Aku mendekat beberapa centi, dia juga.
“Kalau mau turun di stasiun Sannomiya, mesti lewati stasiun apa saja? Aku tidak bisa baca kanji yang ini..” sambil nunjuk kertas. Bah! Kelihatanlah begonya aku! :S


Lalu dia mengambil kertas dan menjelaskan dengan bahasa Jepang yang Alhamdulillah mudah dimengerti. Jadi, menurut penjelasan dia, aku harus turun setelah stasiun melalui stasiun A, B, C (sumpah..lupa namanya -_-“). Katanya, nanti kalau sudah tiba di stasiun yang kutuju, dia akan memberitahu agar aku bisa segera turun. Baik banget..hikz. Dan tak lupa, kuucapkan terima kasih bertubi-tubi. Orangnya ramaaah sekali. Aku juga baru sadar setelah mengobrol, menjelaskan tujuanku ke Jepang dan sedang apa aku di Itami saat itu, hmm..cakep juga kisanak itu! Cakep untuk ukuran orang Jepang lah. :D
Menurut cerita dia, dia pernah ke Indonesia, tepatnya di Bali. Dia belum pernah ke Makassar, tapi dia tahu nama itu. Laki-laki itu berusaha mengatakan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia, dan mungkin responku saat itu sangat bisa terbaca. Aku terkesima. Yaah..senang saja rasanya, jika mengetahui ada turis yang bisa mengucapkan kata-kata dari negara kita. Lalu aku ingat bahwa di dalam tas jinjingku yang sobek itu (kasian amat..T.T) ada beberapa gantungan kunci boneka yang berpakaian adat Sulawesi. Masih terbungkus dan baru. Aku ambil satu, lalu memberikannya pada dia. Dia sangat senang dan mengucapkan terima kasih. Laki-laki itu memandangi gantungan kunci itu lamaa sekali, dan aku jelaskan boneka itu memakai pakaian tradisional. Dia bilang kalau ke Indonesia, dia mau berkunjung ke Makassar. Oh..mini kite kudasai.. ^_^. Laki-laki itu namanya siapa ya? Watanabe Hiroki bukan ya? hahaa. Lupa lagi. Ohya, sebelum aku turun, dia sempat memberikan kartu namanya, katanya kalau ada apa-apa selama di Jepang aku bisa menelfon. Sekarang kartu nama itu ada di agenda, dan aku belum pernah menelefon beliau. Bingung..mau bicara apa.. :D

Tak ada kontak fisik waktu itu. Alhamdulillah ya..budayanya orang Jepang untuk menghormati itu adalah membungkukkan badan, bukan berjabat tangan. Karena kami berada di dalam kereta, jadi kami hanya saling menganggukkan kepala. Begitu akan turun pun dia mempersilahkan dengan sopan dan berkata akan turun di stasiun berikutnya. Aku keluar dari kereta dan berbalik ke arah pintu, memandangnya, membungkukkan badan, dan kami saling melambaikan tangan. Alhamdulillah.. aku sudah selamat sampai di Kobe!! Oke, sekarang saatnya mencari lokasi asrama.. Tapi...doko ni aru?? :3 e-to..Wasurechatta!! Shimattaaaaa~!!

Oke, aku lupa rute perjalanan dari asrama sampai stasiun kereta Sannomiya. Waktu aku diantar ke stasiun, saat itu hari masih pagi. Jalanan terang benderang. Dan orang ramai lalu lalang di jalan. Nah, begitu pulang..hari sudah malam!!! Aku memang tidak terlalu ingat jalannya. Namun kuberanikan diri untuk berjalan keluar dari stasiun dan..celingak celinguk menebak kira-kira jalanan yang mana yang kulewati tempo hari. Mungkin yang kanan? Oke, aku berjalan ke arah kanan. Berjalan dan berjalan sambil sesekali mengecek jam tangan, sudah pukul 8 lewat..hikzz..apa cuma aku yang masih berada di luar dan semua teman-teman sudah kembali dengan tenang di asrama?? Lalu begitu berjalan cukup jauh, menebar pandangan lagi, dan merasa ada yang aneh..sepertinya bukan di sini..Oh God..kapan aku lewati sebuah tanah lapang yang sepi?? Sepertinya aku salah rute. Mana sepi lagi?!! Nyaris tidak ada orang di luar rumah. Baiklah, aku putuskan kembali ke stasiun saja. Dengan langkah tergesa-gesa menghindari jalan-jalan yang sunyi dan menuju ke keramaian stasiun. Di sana aku celingak celinguk lagi..apa ke kiri?? Atau terus lurus maju ke depan ya? Aku berjalan lagi, menuju jalan yang ada di depan, lurus, bukan kanan atau kiri. Mungkin di situ, pikirku. Tapi begitu sudah berjalan jauh, aaahkk...rasanya tidak familiar dengan jalanan ini!! Seingatku, tempo hari ada pusat pertokoan yang kulewati. Tapi kok ini belum sampai-sampai ke sana? Padahal udah jalan cukup jauh. Tak ada orang lain yang bisa kutanyai di jalan. Kalaupun ada orang, dia laki-laki dan aku takut T_T. Oke, back to the station daripada sok tahu dan semakin jauh kesasar. Ingat terus untuk mempergencar do’a..!!

Orang-orang pun tidak ramai lagi berlalu lalang. Oh Allah..sedetik rasanya pengen nangis. Ah, cemen..masa’ mahasiswa nangis? Pikirkan lagi cara lain untuk bisa selamat sampai asrama!! Oh Allah..What should i do?? Keringat dinginku membanjir sudah.Huhuhuu. Di salah satu sudut jalan, ada gerombolan laki-laki Jepang yang sedang ngumpul. Rasanya beberapa dari mereka seperti menoleh dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Tadinya sih aku mau bertanya saja pada mereka, “mas..rute menuju asrama mahasiswa Kobe Shoin dimana ya?” tapi urung niat itu. Tiba-tiba muncul sifat yang Allah tak suka, yakni su’udzon. Saat itu aku coba tegaskan, bukan maksudku untuk su’udzon Tuhaaaan..aku hanya ingin waspada dan tidak ingin gegabah.. T_T. Yah..Allah Maha tahu dan Maha Pemaaf. Aku hanya berharap para pemuda itu tidak datang menghampiri meski mungkin mereka heran melihat ada perempuan (turis) berkerudung yang mondar-mandir sendirian di jalan. Tak apalah..lebih baik mereka tak mendekat saja. Sama sekali tak terpikirkan untuk masuk kembali ke stasiun dan bertanya pada para petugas. Sama sekali tak ada pikiran ke sana. Aku justru mencari alternatif lain. Jalanan semakin sepi. Aku menunggu sosok perempuan yang mungkin bisa aku tanya. Aku tunggu..dan kutunggu... Yang lewat ada beberapa, tak nampaknya tidak bisa diganggu. Dia terlihat sibuk. Ada juga yang jalannya sangat cepat, seolah pakai skateboard tapi tidak, dia cuma jalan kaki, hanya cepat.

Kemudian ada sosok perempuan yang nampak masih muda yang melintas tak jauh dari tempatku berdiri menyandar, ditatap pilu oleh semut-semut merah yang berbaris rapi di dinding. Bertanya tidak..bertanya tidak..ayo Emma putuskan!! Perempuan itu berjalan semakin menjauuuhh!! Ini sudah jam berapa?? Gak perlu JAIM, ini DARURAT!!

Oke, segera kulangkahkan kaki, berjalan sedikit lebih cepat untuk menyusul perempuan berambut pendek itu. “Sumimasen...” pelan-pelan perempuan itu berbalik. Dengan sopan dan hati-hati aku mendekat dan berkata can you help meeee.. T_T hahaa. Menyedihkan pemirsa! Aku bertanya rute untuk ke asramaku lewat mana. Aku sebutkan namanya dan dia menunjukkan aku harus ke arah sini lalu ke situ lalu ke sono. Aku minta dijelasin lagi, dan bersiap menjelajah kembali. Dari raut wajahnya dia sepertinya khawatir, maka dia berkata akan mengantarku saja. Aku tanya, apa dia tidak sibuk? Dia jawab, dia mau ke rumah temannya untuk belajar bareng (hah..jam 9an malam ke rumah teman..) dan tidak apa-apa kalau terlambat sedikit, dia takut aku kenapa-kenapa di jalan. Aduuh..so sweet banget dah!! ^_^ *terharu tingkat dewa* Maka kami bersama-sama menyusuri jalan sambil mengobrol. Sama seperti laki-laki yang kutemui di dalam kereta, aku jelaskan kedatanganku ke Jepang dan kenapa bisa tiba di stasiun malam itu, dia juga terkesima. Selalu bilang “sugoi..sugoi..” yang artinya “hebat..”. Dia ceritakan kalau dia juga mahasiswi di Kobe tapi bukan di Kobe Shoin University tempat aku belajar, melainkan di salah satu kampus negeri di Kobe. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Matsubara. Aku perkenalkan diriku dan aku memanggilnya Matsubara san, saat itu. Sepanjang jalan kami terus mengobrol. Suara Matsubara san ini benar-benar khas Japanese girl ala anime banget!! Tahu tidak, suara tokoh anime yang kemayu..lembut..halus..sosok protagonis? Nah, suara Matsubara seperti itu. Aku kira suara tokoh anime seperti itu cuma dibuat-buat saja, tapi ternyata malam itu aku mendengar sendiri suara Matsubara san memang sehalus itu. Orangnya juga benar-benar baik banget!! :D

Sepanjang jalan, sambil ngobrol aku perhatikan rute..sepertinya ada yang aneh. Apa tidak salah rute ini? Aku tanya pada Matsubara san, masih berapa jauh lagi jaraknya? Dia bilang udah dekat. Lho!! Tapi kok aku tidak mengenali jalanan dan area yang kami lewatin ya?? Firasat ini berkata this is wrong way beb.. :D. Ternyata benar, tak lama Matsubara san menunjuk “koko desu..”(di sini). IIE..CHIGAUNDESU~ T_T dan dia syok! Oh Noooo... >,<. Malam terasa semakin mencekam (halaah), dan kami mencocokkan nama asrama dengan nama asrama yang terukir di dinding pagar. Emang bukan ntu, neng!! Ayok mutar balik, kembali ke arah stasiun. Hikkzz..akhirnya kami berjalan balik lagi. Sabar...Pasti bisa pulang kok. Pasti..! Aku berusaha mensugesti diri untuk tetap tenang. Aha!! Aku bertanya padanya, apa dia punya handphone atau tidak. Dia punya dan aku meminta tolong agar dia menelefon dosenku yang orang Jepang. Kartu namanya ada di dalam tas. Dia langsung meng-iyakan. Kuberikan kartu nama, dan menunjukkan salah satu nomor yang tercantum di situ. Aku ingat, dulu salah satu dosen Jepang bilang “kalau ada apa-apa, kalian bisa menghubungi nomor yang tertera di balik kartu nama kalian. Hubungi saja nomor asrama atau nomor dosen penanggung jawab”. Matsubara san segera menelefon dan terhubunglah ia dengan seseorang. Aku berusaha menangkap pembicaraan yang begitu lancar dilontarkan dalam bahasa Jepang. Matsubara san bercerita pertemuan awal kami sampai akhirnya kami salah rute. Dan ternyata memang benar, kami salah alamat tadi. Memang ada beberapa asrama mahasiswa di sekitar stasiun, dan kami ke asrama yang salah. Matsubara san mengucapkan kata tak apa-apa yang aku duga adalah balasan dari ucapan terima kasih yang bertubi-tubi ia terima dari orang diseberang telefon, entah siapa. Ia menutup telefon dan berkata seseorang bernama Murakami sensei akan segera menjemputku di stasiun. Sebaiknya kami berdua menunggu saja dengan tenang di situ. Aku patuh saja. Apalagi yang akan menjemput itu tak lain adalah salah satu dosen (guru besar) di kampus tersebut. Posisinya di bawah rektor lah. Sosok baik hati, berkharisma, dan disegani. Aku harus menyusun kalimat, maaf dan terima kasih, serta alasan-alasan mengapa semua ini terjadi... *menerawang memandang langit malam* (_ _”)

Di pintu tempat aku keluar pertama kali, di situlah aku kembali dan menunggu berdua bersama Matsubara san. Dia masih rela menemani. Duh, semoga Allah membalas segala kebaikan orang-orang yang sudah menolongku saat itu. *terharu tingkat kaisar langit* :’)
Di sela-sela kami menunggu kedatangan Murakami sensei, aku mencari sesuatu yang mungkin bisa kuberikan sebagai lambang terima kasihku yang sangat dalam. Udah ditemanin jalan cari asrama, dipakai pulsanya buat nelfon, ditemanin lagi, padahal dia kan ada kegiatan lain juga. Sayang banget..gantungan kunciku udah habis. Masih ada sih, tapi di kamar asrama. Jadi aku mengambil salah satu kipas kecil bermotif khas Jepang dan memberikannya pada perempuan muda berkacamata itu. Dia awalnya menolak dengan sopan, tapi aku rada ngotot karena aku benar-benar berterima kasih dan mau memberikan sesuatu padanya. Meskipun hanya kipas sederhana, tapi kipas yang tadinya kuniatkan sebagai oleh-oleh untuk orang di Indonesia, ingin kuberikan pada orang yang begitu baik itu saja. Alhamdulillah dia menerimanya..dan tak lama Murakami sensei datang!!! *SUMPAH. LEGA NIAN!!* :’D

Setelah berpamitan dengan Matsubara san (sebelumya kami sempat bertukar email ^^), aku dan Murakami sensei berjalan bersama menuju asrama yang sesungguhnya. Hehee. Aku masih ingat, saat itu Murakami sensei terlihat sangat sangat sangat berterima kasih dan lega karena Matsubara san sudah mau menolong dan ‘menjaga’ anak nyasar ini :D. Nah, di dalam perjalanan pulang gantian aku yang berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada senseiku itu. Hiikkzz..udah ngerempongin soalnya. Dengan wajah ramah dia bilang “daijoubu..shimpaishinaide..” (tak apa-apa. Jangan khawatir..). Kami mengobrol dan ternyata obrolannya jadi seru. Kadang beliau tertawa saat aku bercerita panjang lebar tentang rute nyasarku (ekhem..dengan bahasa Jepang sekenanya :3). Benar saja, rute yang kami jalani kali inilah yang familiar. Meskipun jalanan sudah sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas, tapi aku kenal jalanan itu. Dan aku lega karena sudah ada dosenku bersamaku, menuju asrama.. *tiba-tiba jadi rindu banget dengan juniorku yang sudah berada di asrama* :’). Iya, kata Murakami sensei..cuma aku saja yang belum balik ke asrama. Beliau mendapat telefon dari Uota sensei bahwa aku masih berada di stasiun, lupa rute ke asrama (Oh Allah..memalukan amat ya diriku saat itu? T,Ta), tadinya Uota sensei mau menjemputku, tapi kemudian Murakami sensei menawarkan diri karena kebetulan sekali malam itu Murakami sensei sedang berada di stasiun sebelum sannomiya dan dia akan turun di sannomiya lalu akan menjemputku. Pantas saja beberapa kali salah jalan akunya, ya karena aku salah keluar pintu stasiun :D hahaa.. BAKA. Benar saja, di asrama pun kedua juniorku sudah menunggu dan bersyukur melihat kedatanganku.. :’) Alhamdulillah..
Terima kasih banyak pria baik hati di Kereta..
Terima kasih banyak Matsubara san..
Terima kasih banyak Murakami sensei dan segenap dosen yang panik..
Semoga Allah membalas segala kebaikan hati kalian, sekaligus memberi kalian Hidayah-Nya. Aamiin ya Allah.

Yah..seperti itulah proses dari nyasar sampai menemukan jalan pulang. Kemarin aku sempat mengobrol dengan kak Rudi di chatroom fesbuk. Aku bilang kalau orang Jepang itu rada tertutup dan sibuk dengan dunia sendiri. Yang baik dan ramah ada, banyak, tapi jauh lebih banyak type orang yang individualismenya tinggi. Kemudian aku mengingat kisah ini. Alhamdulillah sekali..aku beruntung karena di Jepang aku bertemu mereka yang sangat ramah dan begitu baik kepadaku. Pertolongan Allah yang diperantarai oleh orang-orang ini... :) Terima kasih Tuhan.. YOKATTA.
Lain kali aku harus benar-benar menyimak rute. Jangan sibuk foto kanan kiri aja, sampai lupa ini udah di jalan mana. Duh, jangankan di Jepang, di Makassar saja kadang masih sering nyasar. Hehee. Lalu kalau ada masalah seperti itu jangan langsung panik, jalan keluar pasti ada.. (wiihh..padahal udah keringat dingin duluan :p )
Btw, feelingku berkata, sepertinya aku akan kembali lagi nih ke Jepang, entah kapan. Apa setelah aku mengunjungi negara lain terlebih dahulu? *ngarep abis* ^_^ semoga benar kejadian. Kembali untuk suatu hal yang baik, bersama dengan orang-orang baik, mengunjungi tempat-tempat menakjubkan yang kemarin belum sempat aku datangi..in syaa Allah.. Aamiin ya Rabbal’alamiin.
Udah dulu ah..kepanjangan.. :D hahaa
Wassalamu'alaikum.
salah satu view dari beranda kamarku :) ada gunung berkabutnya..

Aku dan para mahasiswa exchange student beserta para dosen dan rektor :)
ini di area kampus..


Seseorang yang merindukan kehangatan Kokubo family di Itami,
rahmah/emma :)

No comments:

Post a Comment

say what u need to say.. ^_^