Thursday, February 13, 2014

Fiksi Mini : Jejakku di Padang Panjang. 1931.

Di Thawalib, Padang Panjang, mentari kembali ke peraduan.

Seperti hari kemarin, usai belajar aku dan beberapa kawan berjalan menuju surau. Di dalam, orang-orang yang sudah berkumpul di salah satu sudutnya menarik perhatianku. Kudatangi perkumpulan itu bersama seorang kawan, penuh semangat ikut duduk melingkar. Mereka yang tadinya ramai bercerita mendadak terdiam. Semuanya menoleh ke arahku. Salah satu yang kutebak sebagai pemimpin majelis membuka suara.

"Maaf Zainuddin, kami ingin membahas sesuatu yang hanya bisa dibicarakan ke sesama anak Sumatera. Jadi kiranya.."

Kalimat menggantung itu sudah kuketahui maksudnya. Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Bangkit berdiri, mundur menjauh dari majelis. Kawanku tak ikut, ia tertahan.

Di sudut surau yang lain aku memilih berbaring, memandang bayangan lilin yang menari di atas dinding kayu. Kupejamkan mata, mengabaikan perasaan dikucilkan yang kerap kualami sejak hari pertama aku tiba di tanah Minang, di dusun Batipuh yang elok, setahun lalu. Begitu pandai aku dijamu ketika aku sedikit berharta di awal kedatanganku. Berkurangnya hartaku, berkurang pula kasih sebagian dari mereka, bahkan dari yang masihlah ada hubungan saudara. Di sini pun tak jauh beda. Dianggap orang asing, tak bersuku, membuatku sulit berucap "aku pun orang Minangkabau", meski ayah seorang asli Minang keturunan bangsawan dan bergelar. Di Padang Panjang, keluarga Bang Muluk lah yang selalu hangat dan penuh suka cita menyambut dan menerimaku sungguh apa adanya. Memberi semangat di setiap langkahku menuntut ilmu, selain surat-surat dari Mak Base dan surat-surat kerinduan Hayati jauh di Batipuh.

Pesona Gunung Singgalang, Padang Panjang

Dalam gelap, terkenang wajah teduh Mak Base yang berada di Makassar. Aroma laut, riak ombak yg terlihat dari jendela rumah di kampung, kapal-kapal besar yang siap berlayar, hangatnya penerimaan di tanah kampungku, ah..teringat segala nasehat Mak Base tentang berbedanya budaya Minangkabau dan Bugis Makassar yang kini kurasakan sendiri. Namun inilah aku, aku hidup bukan untuk mengeluh. Berkali-kali dalam surat, aku dipanggilnya pulang. Namun sebelum usai kudalami ilmu dunia akhirat dengan baik di tanah leluhur ayahku ini, pantang bagiku pulang. Ayah dari ibuku, Daeng Manippi, adalah seorang ahli syair dan ahli ibadah. Ibuku, Daeng Habibah, pun sama terlebih seorang yang pandai bersyair dan penuh kasih sayang. Bukan pula dari keturunan sembarangan. Amin Pandekar Sutan, ayahku, juga seorang yang beribadah di masa tuanya. Aku pun akan berjuang, giat menuntut ilmu di Thawalib, menguasai banyak bahasa, arab, inggris, belanda, belajar banyak hal lainnya, dan membawa bekal ilmu yang banyak ke kampung tempatku dilahirkan, untuk membangun peradaban yang lebih baik. Itu cita-cita yang kugenggam sepanjang langkahku meninggalkan Makassar menuju negeri yang tak kalah indahnya, Sumatera, negeri elok leluhur ayahku. Kususuri Batipuh dan Padang Panjang, kota yang dingin di kaki Gunung Singgalang. Tersapu oleh mata ini megah alam ciptaan-Nya.


Pesona Laut Pulau Samalona, Makassar

Cukuplah pepatah orang Makassar,
"anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang."

Do'a dan restu Mak Base yang kurindu, selalu kupinta. Do'a yang tak terhalang luasnya samudra dan tingginya gunung, akan selalu sampai.

Melindungi anak pejuang yang terbuang.


***

..fiksi mini..alias karang bebas.
Oleh : Rahmah/Emma
Fanfic terinspirasi dari karya Buya Hamka "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck".
tanah Mangkasara', 12 Februari 2014, mendekati pukul 10 malam.

***


Hmm..tahun 1931..ketika 3000 rupiah bisa jadi mahar yg mahal. :D

1 comment:

say what you need to say & be kind :)